Profile cover photo
Profile photo
MANS LANGODAY
130 followers -
Terkadang, seseorang lebih memilih tuk tersenyum, hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa dia bersedih. Peluh yang menetes ketika kau mencari nafkah, akan terbayar dengan nikmat dan berkah yang kau makan. Jangan remehkan hal-hal sepele. Sebab, dari sinilah hal-hal besar biasanya terwujud.
Terkadang, seseorang lebih memilih tuk tersenyum, hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa dia bersedih. Peluh yang menetes ketika kau mencari nafkah, akan terbayar dengan nikmat dan berkah yang kau makan. Jangan remehkan hal-hal sepele. Sebab, dari sinilah hal-hal besar biasanya terwujud.

130 followers
About
MANS's posts

PENCALONAN KAPOLRI


Semua orang yang berakal sehat kaget. Bagaimana mungkin Presiden Jokowi yang antikorupsi mengajukan calon Kapolri yang sudah diidentifikasi memiliki rekening tidak wajar dan namanya pernah distabilo merah oleh KPK dan PPATK agar tidak jadi menteri?

Organisasi masyarakat sipil berbasis kerja, seperti ICW, TII, Kontras, dll, memprotes keras surat Jokowi. Jokowi dikecam habis. Para relawan Jokowi ramai-ramai mengingatkan komitmen politiknya. Protes juga disuarakan dengan keras oleh organisasi masyarakat sipil berbasis massa, seperti NU dan Muhammadiyah. Media massa tidak kalah kencangnya memberitakannya.

Publik juga dibikin kaget. Meskipun KPK menetapkan Budi Gunawan jadi tersangka, DPR tak peduli. Komisi II DPR tetap melakukan uji kelayakan dan kepatutan, Sidang Paripurna DPR menerima pencalonan Budi Gunawan, dengan dalih menghormati presiden. Ya, baru kali ini DPR kompak. Celakanya kekompakan itu untuk menimang tersangka. Sungguh merusak akal sehat.

Demikinalah, realitas politik selalau jauh dari idealitas politik. Tidak usah jauh-jauh dari idealitas, menyesuaikan dengan akal sehat publik saja, tidak bisa. Para elit politik melangkah dangan jalan pikirannya sendiri, dengan kepentingannya sendiri. Selalu bilang demi kepentingan bangsa, demi kemasalahatan umat, tetapi tetap kepentingan sendiri yang dikedapankan.

Kurang apa Surya Paloh saat ini: punya menkopolhukam, punya menteri pertanahan, punya menteri kehutanan, juga punya jaksa agung. Tapi sepertinya, akumulasi kekuasaan belum lengkap jika kapolri tidak di tangan.

Kurang apa Megawati saat ini: ketua umum partai besar yang kader-kadernya loyal; simbol ibu bangsa yang tak terobesesi kekuasaan sehingga memberi jalan lempang pencalonan Jokowi. Apakah hanya karena Budi Gunawan pernah menjadi ajudannya, dia rela begitu saja menabrak nalar publik? Di mana nurani seorang ibu bangsa? Sungguh sulit dijelaskan!

Kurang apa Jusuf Kalla saat ini: dari orang yang disia-siakan SBY lalu dibuang Partai Golkar, berbalik menjadi wakil presiden lagi. Punya kepentingan apa lagi hingga ikut-ikutan mendesak Jokowi mencalonakan Budi Gunawan? Percayakah Anda, jika disebutkan bahwa Kalla punya utang kepada Budi Gunawan sehingga harus membayarnya secara membabibuta? Lantas, utang macam apa?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu dijawab dengan bahasa basi: politik itu cair, politik itu tidak ada kawan atau lawan abadi, poolitik itu seni memecahkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan lain-lain. Yang tidak pernah mereka sadari adalah bahwa politik itu harus bermoral, politik itu harus mengedepankan akan sehat publik, politik itu harus rela mengorbankan kepentingan sendiri untuk kepenitngan orang banyak.

Apapun, Jokowi kini dalam situasi terjepit dan terkepung di Istana. Dijepit oleh elit KMP, dikepung oleh KMP dan KIH. Saat ini Jokowi tidak punya sandaran politik untuk meneguhkan komitmen antikorupsinya. Dia sementara bisa menghindar jepitan dan kepungan itu, dengan menunda pelantikan Budi Gunawan. Tapi sampai kapan?

Di sinilah peran penting organisasi masyarakat sipil: ormas, LSM, relawan, akademisi, dll. Seperti pencalonan dan keterpilihannya sebagai presiden yang dikehendaki publik, kini Jokowi perlu didukung dan ditopang secara nyata. Kritik dan protes atas pengajuan Budi Gunawan terus saja digaungkan. Namun dukungan konkret menghadapi persekongkolan elit politik jauh lebih penting. Ini soal pertaruhan masyarakat sipil.

Sumber: Didik Supriyanto/reporter Merdeka.com

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

 " HIDUP DALAM KOTAK "

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut.

Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan :
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.
Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami.
Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.
Wait while more posts are being loaded