Profile

Cover photo
Lusius Sinurat
Works at Corona Mea Vos Estis
Attended Universitas Katolik Parahyangan - Bandung
Lives in Jl. Menoreh II/2 Sampangan, Semarang 50236
341 followers|2,757,121 views
AboutPostsCollectionsPhotosYouTube+1'sReviews

Stream

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Menurut wikipedia berbahasa Indonesia, FACEBOOK adalah sebuah web jejaring sosial yang didirikan oleh Mark zuckerberg, diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004.

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat

Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat
Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lainnya.


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat


Pengantar

Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.

Melihat definisi di atas, sebetulnya facebook tak lain adalah media yang mendokumentasikan pertemanan dengan sahabat lama atau orang yang baru kita kenal.

Efek facebook ini begitu hebat, bahkan telah menjadi mentalitas dan menyangkut eksistensi seseorang. Nah, mentalitas seperti apa yang dibangun oleh Facebook?


Kualitas Pertemenanan Kuantitatif

Facebook kerap membuat kita menjadi orang dengan segudang teman. Tak penting kenal atau tidak kenal sama sekali. Yang penting adalah banyaknya, dan bukan kualitasnya. Padahal pertemanan itu semestinya menggunakan prinsip "non multas sed multum" (bukan banyaknya yang terpenting, tetapi kualitasnya).

Nah, karena tidak "terlalu" kenal, maka kita merasa tak perlu menjaga "ranah etik" dalam pertemanan di facebook, entah pelanggaran etika jurnalistik, entah pelanggaran terhadap khasanah budaya lokal yang melekat pada diri kita.

Perbedaan pendapat di facebook bahkan tak bisa kita kontrol sedemikian, sehingga kalimat-kalimat kasar seperti, "mangolu dope pidongmu? (apakah kelaminmu bisa ereksi?) sering dilayangkan orang Batak kepada sesamanya sebagai simpul kebodohannya sendiri.

Penggunaan dan pemilihan kata/kalimat pun sering kita abaikan. Bahkan rasa hormat kita kepada orang yang lebih tua, tokoh masyarakat dan pejabat negara yang dulu tertata dengan apik ditengah budaya kita, kini (di media sosial) samasekali sudah jarang terlihat.


Terlalu Terburu-buru Dalam Menyimpulkan Sesuatu

Ketika Tukul mulai belajar bahasa Inggris di talkshow "Bukan Empat Mata" sering bilang ke tamu-tamu yang diundangnya, "Don't judge a book by the cover" Media sosial, terutama facebook justru telah menggiring sebagian orang berpikir secara partikular. Banyak dari pengguna facebook di negeri kepulauan ini yang jatuh pada mentalitas penikmat gosip.

Kasus penghinaan presiden, gubernur, tokoh masyarakat; perdebatan dangkal tentang agama, bahkan pelecehan nilai-nilai kebudayaan tertentu saban hari semakin memenuhi akun-akun facebook.

Tingkat pendidikan bahkan sering tak berpengaruh. Mungkin kita masih mengingat kasus seorang eksekutif muda lulusan S3 dari universitas ternama yang menghina presiden Jokowi di facebook nya. Itu hanya satu kasus. Masih banyak kasus sejenis, bahkan kasus-kaus lain yang setiap menit terpampang di aku para pengguna facebook.


Pendangkalan Pemahaman

Kalau Facebook diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia, maka artinya adalah "wajah buku" atau "buku berisi wajah". Pengertian ini menggiring mayoritas pengguna facebook menggunakan facebook sebagai sebuah buku dengan wajah/sampul menarik.

Bagaimana tidak, banyak status atau tautan yang dibagikan oleh penggunan facebook hanya berisi "buku kosong" berwajah bagus dan indah yang bebas diisi oleh para pemiliknya.

Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Konon katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?" Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


Menyimpulkan Tanpa Mengetahui

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?


Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): "Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."

Semua ini tergantung pada pilihan dan cara Anda dalam menggunakan media sosial, terutama di akun Facebook milik Anda sendiri.

Lusius Sinurat
Saya teringat dengan temanku yang suka mengoleksi buku. Ia sering membeli sebuah buku hanya karena sampulnya menarik. Selanjutnya ia akan menata buku-buku koleksinya itu di rak-rak buku yang tertata rapih di ruang kerjanya. Buku-buku koleksi si teman tadi bahkan masih terlihat baru dan masih dibungkus plastik.

Kebiasaan "membaca buku" dari masyarakat kita memang masih sebatas melihat, membelinya untuk dikoleksi, tetapi belum sungguh dibaca. Tidak hanya dalam hal membaca buku, dalam hal membaca situasi di sekitar tetap menggunakan cara yang sama, yakni melihat sepintas apa yang terjadi dan secepatnya mengambil kesimpulan.

Kono katanya, kebiasaan di atas telah menjadikan banyak profesor Indonesia yang malah menulis buku. Kata mereka, "Untuk apa menulis buku disaat masyarakat kita tak suka membaca?"

Kebiasaan yang sama juga telah menggiring masyarakat kita terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Tak hanya orang tak sekloah, orang yang berpendidikan tinggi hingga S3 sekalipun kerap tak mampu mengurai pemikirannya lewat tulisan yang sistematik.

Kebiasaan "tak mau susah" dan "malas membaca" tadi justru membuat para Doktor dan profesor di universitas-universitas kita lebih memilih untuk menjiplak secara plak (plagiarisme, plagiat) daripada menuliskan idenya sendiri.


(4) Menyimpulkan Ide tertentu Berdasarkan Perasaannya

Masyarakat kita memang tak pernah sungguh membaca buku, majalah, artikel, tulisan, opini dan sejenisnya, juga dalam hal 'membaca' situasi di sekitar mereka. Padahal ketika mendesain sampul sebuah buku/majalah, saya selalu memahami keseluruhan isi buku terelbih dahulu sehingga sampul yang kuproduksi bukan sekedar lukisan terpisah dari isi buku.

Kebiasaan menyimpulkan sesuatu tanpa sungguh tahu apa yang terjadi, atau mengomentari status facebook seseorang tanpa membaca isinya adalah kebiasaan orang bodoh dan tolol atau mereka yang merasa tahu tapi tak sungguh tahu.

Bisa jadi ini adalah buah dari sistem pendidikan kita yang merawat kebiasaan menjiplak/menyontek atau merampas karya orang lain. Dalam hal penggunaan media sosial, seperti facebook misalnya, mentalitas "sok tahu" itu pun sangat mendominasi para penggunanya.

Maka jangan heran bila banyak pengguna facebook di negeri ini hanya sekedar ikut-ikutan, biar dianggap up to date, dan tidak gaptek. Tak jarang terjadi juga ketika mereka hanya me-LIKE atau men-SHARE sebuah postingan tanpa pernah memposting buah pemikirannya sendiri.

Herannya, banyak pengguna facebook yang me-like, mengomentari dan membagikan status seseorang hanya dalam hitungan detik setelah diposting. Artinya, mereka sering menyukai, mengomentari dan membagikan sesuatu yang mereka bahkan tak tahu isi postingannya. Hebat bukan?

Penutup

Mayoritas pengguna media sosial di negeri tercinta ini bermental pragmatis, ikut-ikutan dan hanya kepingin eksis di dunia maya. Selain tak suka membaca, mereka ini juga tak terbiasa melihat sesuatu secara lengkap. Ibarat melihat gelas, mereka lebih menyukai pecahan gelas (beling) daripada gelas itu sendiri.

Dodit Mulyanto, seorang Comica asal Surabaya pernah berbagi pengalamannya saat pertama kali ke Australia dalam acara Ulang Tahun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI):

"Di taman-taman kota dengan pepohonan yang rindang di Australia aku melihat banyak anak muda duduk santai sambil membaca buku. Lain lagi di negara kita. Anak-anak muda kita memang suka nongkrong dengan pasangannya di taman-taman kota. Mereka juga membaca sih, tapi bukan membaca buku, melainkan "membaca" situasi sekitar agar ia dan pasangannya bisa bercumbu dibawah pohon."
 ·  Translate
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Bukan Sekedar Sampul
Menurut wikipedia berbahasa Indonesia, FACEBOOK adalah sebuah web jejaring sosial yang didirikan oleh Mark zuckerberg, diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004.  Facebook memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun infor...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Pidato yang menurutku sangat cerdas. Semoga niat baik presiden kita dukung terus
 ·  Translate
Home » Politik , VideoFave » Pidato Kenegaraan Presiden RI Ir. Joko Widodo Pada Tanggal 16 Agustus 2016. Pidato Kenegaraan Presiden RI Ir. Joko Widodo Pada Tanggal 16 Agustus 2016. Ditulis oleh Lusius Sinurat pada 16 Agt 2016 | 01.04. Lusius Sinurat. Share this article :.
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Tak perlu menghabiskan waktu untuk mendeteksi siapa pendukung orisinal Ahok atau pendukung gelap atau pendukung yang tiba-tiba mengurusi sesuatu yang bukan urusannya. Ahok tetap akan melenggang maju, entah menang atau kalah. Ia punya ketetapan dan kita pendukungnya diharapkan hanya konsisten.
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Monitor Smartphone, antara PENCET, SENTUH dan USAP
Tahun 90-an, saat NOKIA masih merajai pasar telepon genggam, kata yang paling kita sukai adalah PENCET alias TEKAN.  Bukan sembarang pencet, karena untuk memunculkan satu huruf saja di layar ponsel kita dibutuhkan 3 kali pencetan. Lalu datanglah Blackberry ...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Ketika Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon Diraih Tanpa Hasadaon
Bila Hagabeon adalah kesuksesan, hamoraon, Hasangapon itu kehormatan, dan Hamoraon itu kekayaan, maka hasadaon berarti kesatuan. Orang Batak mengenal Tri Cita-cita Hidup di atas, yakni hagabeon, hamoraon, dan tentu saja hasangapon. Sementara hasadaon (kesat...
 ·  Translate
1
Add a comment...
In his circles
993 people
Have him in circles
341 people
yoga permana's profile photo
heppy haloho's profile photo
Pena Rakyat's profile photo
Advokat Fidel Angwarmasse, SH. 5806E1B0's profile photo
Frengky MA's profile photo
Redaksi Sebandung's profile photo
rental mobil malang ku sewa mobil malang ku's profile photo
Rudianto Purba's profile photo
Ninik Prajitno's profile photo

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Saat Anak Digegas Untuk Segera Meretas
“Memang beda kalilah anakku yang satu ini. Di usianya yang baru 2 tahun saja sudah jago bermain game online. Padahal belum bisa baca loh,” kata Nai Unggul kepada teman akrabnya, Nai Harapan. “Betul sekali, eda. Si bungsu kami juga begitu. Gak bisa silap sik...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Ketika Orang Kristen Alergi Kotbah
Risalah “Homili Paus Fransiskus” Jumat pagi, 13 Desember 2013 di Kapel Domus Sanctae Marthae Residensi di Vatikan, Fokus perhatiannya pada sikap beberapa orang Kristen yang tampaknya “alergi” dengan para pengkhotbah dan terlalu bersifat mengecam mereka yang...
 ·  Translate
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Pidato Kenegaraan Presiden RI Ir. Joko Widodo Pada Tanggal 16 Agustus 2016
Lusius Sinurat
 ·  Translate
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Dukung Ahok Karena Anda Ingin Mendukungnya
Tak perlu menghabiskan waktu untuk mendeteksi siapa pendukung orisinal Ahok atau pendukung gelap atau pendukung yang tiba-tiba mengurusi sesuatu yang bukan urusannya. Ahok tetap akan melenggang maju, entah menang atau kalah. Ia punya ketetapan dan kita pend...
 ·  Translate
Tak perlu menghabiskan waktu untuk mendeteksi siapa pendukung orisinal Ahok atau pendukung gelap atau pendukung yang tiba-tiba mengurusi sesuatu yang bukan urusannya. Ahok tetap akan melenggang maju, entah menang atau kalah. Ia punya ketetapan dan kita pendukungnya diharapkan hanya konsisten.
1
Add a comment...

Lusius Sinurat

Shared publicly  - 
 
Jangan Jual Tanah Kepada Pengembang
"Bayangkan lae lah, 1% dari 35 trilyun, berapa itu? Taruh 6 bulan di bank saja udah berapa bunganya itu? Lae hitung sajalah berapa itu, kata pendeta H Simanjuntak bersemangat. "Aku tidak mengerti. Uang itu untuk apa, tepatnya untuk siapa dan dari siapa?" ta...
 ·  Translate
1
Add a comment...
Lusius's Collections
People
In his circles
993 people
Have him in circles
341 people
yoga permana's profile photo
heppy haloho's profile photo
Pena Rakyat's profile photo
Advokat Fidel Angwarmasse, SH. 5806E1B0's profile photo
Frengky MA's profile photo
Redaksi Sebandung's profile photo
rental mobil malang ku sewa mobil malang ku's profile photo
Rudianto Purba's profile photo
Ninik Prajitno's profile photo
Work
Occupation
Konsultan SDM, Konselor Psikospiritual
Skills
Training, Consulting, Teaching, Leadership, Writer
Employment
  • Corona Mea Vos Estis
    Auditor, 2014 - present
  • Cerdas Bersinergi Consulting
    HC Consulting, 2012 - present
  • Indonesia Business Links
    Trainer, 2012 - 2013
  • Bank Tabungan Negara
    Konsultan SDM, 2012 - 2013
  • Pena Sinergi
    Majalah Pendidikan Online, 2016 - present
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Currently
Jl. Menoreh II/2 Sampangan, Semarang 50236
Previously
Cerdas Bersinergi Consulting - Jalan Lamongan Raya No. 28E Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang 50236 - Jl. Baros 8 Cimahi, Jawa Barat - Jl. Flamboyan V/9 Medan, Sumatera Utara - Jl. Pandu 2 Bandung, Jawa Barat - Jl. Cipayung Gg Civita, Ciputat, Banten - Jl. Kol. Masturi 396 Cisarua-Cimahi, Jawa Barat - Jl. Sultang Agung 2 Bandung, Jawa Barat - Jl. Lapangan Bola Atas 27 Pematangsiantar, Sumater Utara
Contact Information
Home
Mobile
+62 813-2243-8482
Email
Work
Phone
+62 813-2243-8482
Email
Address
Medan, Indonesia
Story
Tagline
Celotehan tentang FILSAFAT-BUDAYA-SOSIAL-POLITIK
Introduction
FULL NAME: 
  • Lusius Sinurat, SS., M.Hum 

JOB
  • Lusius is an youth and family counsellor, human capital consultant, public trainer, motivator; counselor and facilitator for personal development spiritual, life coaching, self-awareness, leadership, communication and excellent attitude; blogger, juournalist, journalist layouter; financial auditor; photographer... and now Lusius is a founder of Cerdas Bersinergi Consulting.

EDUCATION:  


2003 - 2005

  • Parahyangan Catholic University Bandung | Master of Theology (M.Hum.) | GPA: 3.44/4.0
1998 - 2002
  • Parahyangan Catholic University Bandung | Bachleor Degree of Philosophy (S.S.) | GPA: 3.11/4.0
1993 - 1997
  • Christus Sacerdos Seminary Senior High School Pematangsiantar | Social Sciences
1990-1993
  • Karya Bhakti Junior High School, Bah Tonang
1984-1990 
  • State Primary School, Bah Tonang


SKILLS

Certificates:

  • Various certificates as a speaker in various seminars, workshops, retreats and trainings (2002 - 2013).

 

Laguage:

  • Indonesian, 
  • English, 
  • Latin, and 
  • some local dialects in Indonesia.

 

Computer Skills:

  • MS Office (Word, Excel, Powerpoint, Publisher), 
  • Mindjet-Mindmap 
  • Adobe (Photoshop, InDesign), 
  • SPSS, 
  • Moviemaker, and 
  • CorelDraw.

 

Extra-curricular activities:

  • Chief editor on KOMUNI magazine, Cimahi (2011), Writer and editor on 13 Years of Saint Mary Queen of Rosary Parish - Tanjungselamat,
  • Medan (2010), President of School Coperation in Minor Seminary (1996-1997), President of
  • Intra‐School Students Organization (OSIS) on Karya Bakti Junior High School.

 

Hobbies:

  • reading
  • writing / blogging, 
  • teaching, and 
  • playing some music instruments and 
  • listening to music

 

Portofolio :


VALUES OFFERED:
  • I am a strong work ethic and persistent; fast learner, open-minded, goal-oriented, creative and innovative; analytical and qualitativie skills with high  attention to details; proven leadership and organizational skills; responsible, hard worker, able to work under pressure; having new ideas, concepts, and preference to be involved; and strongly motivated to be organizationally active with others
  • Experience of my life, both as a spiritual companion, teacher, counselor and trainer at several companies, educational instituions, and some communities have made me a more mature person.


PUBLICATION :
  • Menyapa Anak Lewat Doa. Semarang: 2014. - proses penerbitan
  • Inkulturasi Ritus Perkawinan Adat Batak Toba: 2014. - proses penerbitan
  • Aku Benci Rindu Malam Ini: 2014.  - proses penerbitan 
  • Aneka Celotehan Tentang Anak dan Keluarga, Yayasan Misericordia Untuk Anak
  • Indonesia. Semarang: 2012.
  • Gereja Menyapa Keluarga dalam Sentuhan Santa Maria: 13 tahun Paroki Santa Maria Ratu Rosari Tanjungselamat Medan KAM. Medan: 2010.

SOCIAL ACTIVITES :
  • Trainer for Youth Economic Employment (YEE) Indonesia Business Links (IBL), Grobogan - Central Java (2012) 
  • Career Counselor for PLAN Internatioonal, East Java (2012)
  • Mission Trip for Nias Children CFDC Misericordia (2011-2013)
  • Cerdas Bersinergi Foundation (2012 - present)


WORKING EXPERIENCES

2012 - 2013
  • Financial auditor and HR System Auditor on The
  • Archdiocese of Medan, Medan (2014)
  • Financial auditor and HR System Auditor on PT AMA
  • (Association Mission Aviation), Jayapura (2014)

2012 - 2013
  • Founder of Cerdas Bersinergi Consulting
  • Facilitator for personal development, spiritual life coaching, self-awareness, leadership, communication and excellent attitude
  • Counselor and motivator for children and families

2007 - 2008
  • Project Manager in PT Demitsu Jakarta
  • Civita Youth Camp Jakarta

2006 - 2007
  • Musumase Training & Consulting, Jakarta as HR Consultant for staff and employees PT Giga Engineering Jakarta and PT Mitra Karsa Utama Jakarta.


SPEAKER/FASILITATOR FOR HUMAN DEVELOPMENT TRAININGS, SEMINARS AND WORKSHOPS


Speaker at seminars, workshops and retreat:
  • Sada Pardomuan Community Sanata Dharma University, Yogyakarta (2013)
  • CFDC Misericordia, Semarang (2012)
  • Catholic Community of Karo People Bandung and the Surrounding Areas - Komunitas Katolik Karol Bandung dan Sekitarnya (K3BS), Cimahi (2011)
  • Teachers of St. Mikael Junior High School Cimahi (2011)
  • The UTC - Telkom Bandung (2011)
  • CV. Surritex Leuwigajah, Cimahi (2011)
  • PT. Royal Cimareme, Cimahi (2011)
  • The Catholic People Guidance (BIMAS) Deli Serdang, Lubuk Pakam (2010)
  • Communication Forum for Religious (FKUB) Medan, Medan (2009 & 2010)
  • Saint Mary Queen of the Rosary Tanjungselamat Parish Medan (2009)
  • PT. Pertamina Region Sumatera, Medan (2009)

Keynote Speaker and Facilitator for seminars and trainings :
  • The international central bank of China (ICBC) Jakarta, Yogyakarta (2013)
  • Association of Indonesian Family Planning (PKBI) Central Java, Semarang
  • (2013)
  • ISCO Foundation Jakarta, Yogyakarta (2013)
  • Staffs and Employess of OCBC‐NISP Region Semarang, Bandungan (2012)
  • The Board of directors and staffs of PT Dragon Prima Farma Semarang, Semarang (2012)
  • Catholic Students Community of Faculty of Medicine, North Sumatra
  • University Medan, Sibolangit (2010)
  • Catholic Students Community of Economics Faculty, North Sumatera
  • University (USU) Medan , Medan (2010)
  • Catholic Students Community of State University of Medan (Unimed) Medan, Sibolangit (2009)
  • Catholic Students Community of North Sumatera University (USU) Medan, Medan (2009)
  • Young Catholics of Saint Mary Queen of the Rosary Tanjungselamat Parish Medan, Pancurbatu (2009)
  • Intra‐School Students Organization (OSIS) of St. Tarakanita Senior High School Jakarta, Ciputat (2008)
  • Intra‐School Students Organization (OSIS) of Pelita Harapan Senior High School Jakarta, Ciputat (2007)
  • Intra‐School Students Organization (OSIS) of St. Joseph Senior High School Jakarta, Ciputat (2007)
  • Staffs of BKKBN, Jakarta, Jakarta (2007)
  • The student senate of Atma Jaya Catholic University of Yogyakarta, Kaliwurang (2008)
  • Staffs and employees of PT Multi Karsa Utama Jakarta, Bogor (2007)
  • Staffs of Bhakti Luhur Foundation Jakarta, Ciputat (2007)
  • Candidates students receiving the scholarships on master's and doctoral programs of the Foundation, PT. Sampoerna Indonesia, Jakarta (2007)
  • Staffs and Employees of World Vision Indonesia, Jakarta (2007)
  • BPR Intidana Jakarta, Cipanas (2006)


DRAFTINGT EAM & EDITOR OF TRAINING MODULE
  • Hardskill & Softskill Learning Module for Bank Tabungan Negara (BTN), Jakarta (2012)
  • Consulting Modul and Course Guide for Bank Tabungan Negara (BTN), Jakarta (2013)
  • Job Analysis Based on Competence for PT BOB Bumi Siak Purkaso ‐ Pertamina Hulu, Jakarta (2013)


PERSONAL CONTACT:
Bragging rights
Cerdas Bersinergi Consulting
Education
  • Universitas Katolik Parahyangan - Bandung
    Magister Ilmu Teologi, 2003 - 2005
  • Universitas Katolik Parahyangan Bandung
    Fakultas Filsafat, 1998 - 2001
  • SMA Seminar Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar
    Ilmu Pengetahuan Sosial, 1993 - 1997
  • SMP Karya Bakti Bahtonang
    1990 - 1993
  • SDN Bah Tonang
    -, 1983 - 1990
Basic Information
Gender
Male
Looking for
Friends, Networking
Birthday
November 4
Links
Contributor to
Lusius Sinurat's +1's are the things they like, agree with, or want to recommend.
Monitor Smartphone, antara PENCET, SENTUH dan USAP | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Bukan sembarang pencet, karena untuk memunculkan satu huruf saja di layar ponsel kita dibutuhkan 3 kali pencetan. Lalu datanglah Blackberry

Deklarasi Rantinus-Sodikin Bukan Sekedar Sensasi | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Tanggal 30 Juni Pasangan Balon Pastor Rantinus Manalu dan Ustadz Sodikin Lubis dideklarasikan. Tanggal 2 Juli saya tulis opini saya tentang

Agama Bukan Lembaga Spiritualitas | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Dan agama (yang kerap mengatasnamakan dirinya sebagai lembaga spiritualitas tadi) selalu mendoktrinisasi para pengikutnya bahwa merekalah ya

Kesalahan yang Indah ? | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Bagi kebanyakan orang "kesalahan" seringkali justru memproduksi "keindahan" tersendiri. Perselingkuhan misalnya, seringkali harus kita paham

Anakku, Bonekaku ! | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Pendidikan anak-anak masih tren hingga beberapa tahun ke depan. Anak-anak yang digagas dengan gegas agar segera menjadi anak yang cepat meka

Simulacra dan Realitas Semu | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard. Filsafat komunikasi yang d

Menjadi Raja Dibalik Jabatan Imam dan Guru | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Cukup lama tak menulis tema tentang gereja (Katolik). Sepertinya sudah hampir 5 tahun 'mengusik' perjalanan gereja, tepatnya setelah "kenyam

Bahan Ajar Persiapan Penerimaan Sakramen Krisma (3) | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Sakramentali adalah tanda suci yang dengan cara yang mirip dengan sakramen, menandakan akibat-akibat (terlebih) yang rohani, dan diperoleh b

Mengimani Peran Bunda Maria - Tak Butuh Apologi | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

(32) "Lihat, ibu dan saudara-saudaraMu ada diluar dan, dan berusaha menemui Engkau" (33) Jawab Yesus kepada Mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa

Generasi Y | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Sekitar 2 hari lalu saya berdiskusi tentang karakter netizen di era kekinian ini. Secara umum kita sudah tahu beberapa tipe netizen, terutam

Naik Pangkat Hingga Hidup Terangkat | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Benar bahwa "naik pangkat" kerap dimengerti sebagai tindakan resmi dalam administrasi kepegawaian yang mengakibatkan perubahan pangkat pegaw

Merajut Potensi Memaksimalkan Aksi | Lusius Sinurat
www.lusius-sinurat.com

Anak dan remaja selalu suka bermain. Di usia Sd, SMP dan SMA adalah saat di mana resiko selalu dianggap tantangan. Mereka seakan penasaran b

Google
plus.google.com

News and updates on Google's products, technology and more