Profile cover photo
Profile photo
Felix Siauw
334,192 followers -
Penulis dan Pengemban Dakwah
Penulis dan Pengemban Dakwah

334,192 followers
About
Felix's posts

Post has attachment
Tak Malu Tanpa Ilmu

Seharusnya seseorang merasa malu ketika dia mengatakan hal yang tidak dia kuasai, sebab yang disampaikannya malah menunjukkan ketidaktahuannya

Apalagi dalam perkara agama, banyak sekarang orang-orang yang tak pernah belajar agama tapi berkomentar soalan agama, tanpa memakai dalil atau argumen apapun

Mendebat para ulama hanya dengan 'katanya', 'pokoknya', dan logika-logika gagal, hanya untuk mempertahankan nafsu dan maksiat, padahal tidak mengetahui ilmunya

Dalam hal kepemimpinan, ulama sudah menyimpulkan, bahwa haram hukumnya orang kafir menguasai kaum Muslim, diangkat menjadi pemimpin kaum Muslim

Tapi mereka yang bebal ini mulai dengan logika gagalnya, "ini hanya pelayan, bukan pemimpin", "daripada Muslim korup", "ini bukan pimpinan ibadah kok", dan lainnya

Atau menyamakan antara pemimpin perusahaan dan pemimpin alam bidang kekuasaan, nyata sekali ucapan ini diada-adakan, dan menunjukkan minim ilmunya

Hingga tak dapat membedakan definisi penguasa, tak bisa tahu mana hubungan pengaturan, hubungan pekerjaan dan hubungan muamalah lainnya, sebab gelap akalnya

Lucunya, selama ini kaum bebal ini selalu pintar menggunakan akal membela penista agama, tapi mendadak hilang akal ketika harus memahami agamanya sendiri

Padahal bila ingin jujur pada diri sendiri, cukup bertanya saja pada nurani. Pantaskah kita merasa lebih tahu ketimbang sahabat Nabi, dan ulama-ulama pendahulu kita?

Siapa kita bisa menghapus hukum yang sudah diturunkan Allah dan Rasul? Mengatakan yang tidak dikatakan ulama, menyelisihi apa yang sudah disepakati ulama?

Lettering by @punyairul, makasi ya Om, sayangnya aku belum bisa bales lettering namamu hehehe.. ☺️☺️☺️
Photo

Post has attachment
Jangan Netral

Aqidah itu tidak mungkin netral, dia pasti akan memihak. Begitu pula saat seseorang memihak pasti tidak mungkin tanpa dasar, pasti ada keyakinan pada dirinya

Itulah mengapa Al-Qur'an melarang penguasa kaum Muslim diambil dari orang kafir, sebab aqidahnya pasti akan disebarkan, dan pasti akan jadi membahayakan aqidah

Itulah juga alasan mengapa kaum Muslim tak boleh menjadikan orang kafir sebagai auliya, apapun makna auliya itu. Apakah teman setia atau penguasa, sama saja

Sebab baik jadi teman setia atau penguasa, seorang auliya mutlak dekat, dicintai, tempat berlindung, tempat merujuk, dan pengatur. Karena itulah pemimpin kafir diharamkan

Maka kita lihat, Muslim manapun yang mendukung pemimpin kafir, pastilah punya kecenderungan yang sama dengan yang dipilihnya itu, walau secara identitas agamanya beda

Sebab aqidah menentukan kecenderungan, bila kecenderungannya sudah rusak, maka begitu pula aqidahnya. Inilah kondisi ummat pada saat ini, rapuh keyakinannya

Walau bisa jadi sebab pengetahuan yang kurang, tapi sebabnya juga sama, kemalasan itu adalah akibat kedangkalan aqidah, tak terdorong mencari kebenaran

Bersyukurlah bila sampai waktu ini kita jadi bagian orang yang masih merasa bodoh hingga perlu belajar, atau minimal bangga dengan Islam dan jadi bagian Muslim

Jangan bangga jadi yang netral, sebab yang netral itu biasanya yang dipengaruhi, aqidahmu itu mengharuskan dirimu berpihak, dan pihaknya pastilah kebenaran dan kebaikan

Yang benar hanya datang dari Allah, maka kebaikan hanya akan wujud apabila Islam ditegakkan secara total, oleh pemimpin Muslim yang menjalankan Kitabullah dan Sunnah
Photo

Post has attachment
Cahaya Tak Menyatu Kegelapan

Ada keyakinan mendasar sebagai seorang Muslim yang harus dipegang, bahwasanya Islam adalah satu-satunya agama yang Allah ridhai, selain itu tidak

Keyakinan itu bukan berarti merendahkan agama lain, sebab kita diperintahkan menghormati manusia. Keyakinan seperti itu adalah konsekuensi kalimat tauhid

Sejak kita mengucap "Laa ilaaha illa Allah" artinya kita meniadakan segala kekuatan, kebenaran, kebaikan, keadilan, kemampuan, kehebatan, selain hanya kepada Allah

Dan "Muhammadur Rasulullah" artinya kita berkomitmen jadikan Nabi Muhammad sebagai panutan utama dalam ber-Islam, bukan yang lain apalagi selain Muslim

Dan Rasulullah sudah menunjuk dalam hadits shahih, bahwa yang paling memahami agama Islam ini adalah sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin, mereka generasi terbaik

Seluruh generasi terbaik itu, serta generasi salaf, bahkan khalaf yang meneruskan mereka, semua bersepakat, bahwa Islam itu tak ada yang menyamai, apalagi kekufuran

Maka pandangan "semua agama sama" adalah bid'ah pemikiran yang sangat besar, tak pernah dikenal orang dahulu kala, ulama atau generasi cendekiawan manapun

Tapi saat ini, kita melihat lebih dari itu, tidak hanya memandang agama sama, tapi ada yang mengaku 'ulama' malah membela kekufuran dan penista agama sekaligus

Ilmu itu cahaya, tak mungkin menyatu dengan kegelapan. Begitu pula ulama takkan pernah mau membela orang dzalim apalagi kedzaliman yang benar-benar pekat

Ilmu itu mengangkat derajat mereka yang memilikinya di hadapan Allah, bukan justru untuk membungkuk dan merendah didepan penjajah aqidah dan perampas tanah

Maka jadikanlah pelajaran bagi kita, penjajah itu sedikit jumlahnya, tapi kekuatan mereka akan selalu bertambah oleh mereka yang munafik dan para penggadai aqidah

Dan ini pesan bagi kita, untuk semakin kuat mendekat pada Allah, semakin bersemangat meneladani Rasulullah, berikat teguh dalam ukhuwah, sampai Allah datangkan pertolongan
Photo

Post has attachment
Tanpa Henti Periksa Hati

Tak ada yang salah bila kita ingin menjadi yang paling baik, Al-Qur'an pun menitahkan pada kita senantiasa menujukan diri kita jadi yang terbaik dengan amalan terbaik

Yang salah itu merasa sudah baik, merasa lebih baik dari yang lain, dalam soalan inilah iblis dilaknat Allah, bahkan diturunkan derajat dirinya dibawah manusia yang dihinanya

Al-Qur'an memberikan tuntunan pada kita, bahwa tak perlu menginjak yang lain untuk naik, tak perlu mencela agar kita mulia, merendahkan yang lain agar kita jadi tinggi

Justru dalam Islam merasa bodoh itu pangkal ilmu, rendah hati itu ditinggikan Allah, memberi itu kekayaan, merasa lemah itu kekuatan, ketika semua di jalan Allah

Dalam tahapan selanjutnya, ini lebih sulit. Bagaimana memberi tanpa merasa memiliki, berbagi tanpa merasa berilmu, menasihati tanpa merasa lebih baik, ini tantangan

Berdakwah juga sama, kita diperintah Allah untuk menunjukkan hidayah tanpa membuat manusia lari. Berusaha sungguh-sungguh menghantarkan kebaikan tanpa menyakiti

Memang selembut Rasulullah saja tetap ada yang tersinggung, tapi kita harus berusaha selembut beliau dalam menyampaikan dakwah, adapun selainnya kita serahkan pada Allah

Bila tantangan orang pandir adalah kemalasan mencari ilmu, maka tantangan yang berilmu itu pandirnya dia terhadap orang malas, sebab merasa lebih, merasa sudah baik

Karenanya senantiasa memohon selepas wudhu, dengaan air yang membersihkan diri, juga dibersihkan jiwa dari segala salah, kita berdoa agar termasuk mutathahirin

Yaitu mereka yang selalu memperbaiki diri selepas salahnya, menyucikan setelah kotornya, tanpa henti dan tanpa bosan, terus-menerus sampai Allah memanggilnya

Begitu yang kami coba di @YukNgajiID, bersama-sama saling mengingatkan akan tujuan mulia di dunia, mengkaji Islam dan mendakwahkannya untuk dunia

Post has attachment
Sinergi Dakwah

Kerja dakwah ini mustahil bisa dilakukan sendirian, juga tak mungkin diemban oleh satu kelompok, apalagi melihat keluasan bidang dakwah, sulit jika tidak bersinergi

Dan dalam Islam, sinergi dakwah itu sangat dimungkinkan, karena dalam perkara ushul atau pokok agama, tak ada perbedaan antara kelompok manapun dalam memahaminya

Hanya soalan metode, memang bisa jadi satu dengan yang lain berbeda, disini ujiannya, karena setiap kelompok pastilah anggap metodenya yang paling unggul dan baik

Yang belajar fiqih merasa kerusakan masyarakat karena fiqih, yang membahas aqidah katakan pangkal masalahnya aqidah, guru adab katakan adab dulu yang harus diperbaiki

Yang sibuk mendirikan sekolah sampaikan sekolah yang paling dasar, yang mengetahui ekonomi Islam katakan yang paling penting ummat Islam jadi kaya dulu baru bisa bangkit

Tapi apapun pendekatan untuk membangkitkan kembali ummat Muslim, kita takkan bisa sendirian. Sebab manusia terlalu banyak, dan pekerjaan dakwah terlalu beragam

Karena itulah ketimbang mencari perbedaan, lebih baik kita mencari apa yang bisa kita kerjakan bersama, atau sama-sama bekerja di segmen yang berbeda, titik yang berbeda

Biarlah yang ahli aqidah benahi tauhid, hanya tak perlu katakan yang pelajari tatanegara sesuai syariat itu sesat, biar saja yang ahli fiqih mencerdaskan ummat sesuai kadarnya

Ujian kita adalah adil pada diri sendiri dan adil pada sesama kaum beriman. Bahwasanya kita mengakui keterbatasan kita sebagai manusia, bahwa kita memerlukan sinergi

Apa yang kita dakwahkan, selama dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sudah PASTI baik, tapi bisa jadi perilaku kita yang menjauhkan dari pertolongan Allah, rasa tak suka pada sesama

Sinergi tak harus menyatu, tapi memahami garis perjuangan, fokus pada musuh yang sama, menghadapi beda dengan lembut, bijak dalam hal yang tak sama, iitu sinergi

Mari memulai dengan menjaga lisan dan tulisan, jangan menulis kecuali yang benar, disampaikan dengan cara yang paling indah, jaga dari keinginan untuk menyakiti sesama
Photo

Post has attachment
Bersama Lebih Baik

Salah satu dari kunci keberhasilan istiqamah dalam ketaatan adalah memiliki sahabat yang sama-sama menginginkan kebaikan, sebab mereka adalah pengingat dan penyemangat

Semua manusia sama, cenderung mudah melakukan kebaikan saat bersama, dan sulit bermaksiat saat bersama. Tapi mudah digoda syaithan untuk berdosa saat sendirian

Memang bersama-sama bisa jadi lebih lambat bergerak, pun tak menjamin kita selalu berada dalam kebaikan, tapi itu jauh lebih baik daripada kita berjalan tanpa teman

Sekuat-kuat aqidah kita sebagai seorang manusia, tetap seseorang itu ada batasnya. Namun bila ia sudah bersama untuk kebaikan, maka Allah kuatkan mereka berlipat-lipat

Kisah Rasulullah dan sahabat membuktikan hal itu, walau Nabi Muhammad saw langsung Allah yang membimbing, tetap saja ada para sahabat yang berada disekeliling Nabi

Mereka menjadi penguat bangunan Islam, bergerak bersama jadi satu kekuatan, memerangi kekufuran dengan apa yang mereka miliki, semaksimal kemampuan mereka

Jika syaithan saja menggoda kita berkelompok-kelompok, lalu siapa kita lantas bisa menjadi baik sendirian? Kita perlu teman hijrah, teman yang bersama menuju kebaikan

Alhamdulillah, itulah yang @YukNgajiID coba lakukan, memfasilitasi dan mengajak setiap Muslim mengenali agamanya, memahami agamanya, bersama-sama dalam ketaatan
Photo

Post has attachment
Kesempatan Hijrah

Allah berkali-kali pasti akan memberikan kesempatan hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya, terus-menerus, sepanjang waktu, sampai benar-benar habis waktu hamba itu

Itulah rahmaannya Allah, Dia senantiasa menanti hamba-Nya untuk bertaubat, mengakui kesalahan, tidak hanya itu, Allah limpahkan pula rahmah bagi mereka yang taubat

Kasih sayang dalam bentuk lembutnya hati untuk senantiasa memperbaiki diri, merasakan nikmatnya berjalan diatas ketentuan Allah, juga bahagia dalam ketaatan

Kesempatan itu bisa jadi dalam bentuk musibah, atau malah nikmat dunia, atau bisa pula Allah hadirkan dalam bentuk kejadian, atau dengan hadirnya seseorang bagi kita

Yang kita perlukan sebenarnya hanya meyakini bahwa jalan Allah adalah yang terbaik bagi kita, begitu kita mendekati Allah, maka Allah akan lebih dulu mendekati kita

Mengapa kita tidak belajar dari kisah-kisah terdahulu? Adakah mereka yang menemukan bahagia bila hanya miliki dunia? Adakah kebahagiaan dalam kemaksiatan? Tak pernah

Sebaliknya, berapa kisah yang sudah kita dengar tentang cara Allah mengganti apapun yang ditinggalkan karena-Nya? Hanya saja tangan kita masih susah melepas maksiat

Padahal kita bersemangat mencari dunia yang belum tentu kita dapatkan, tapi disisi Allah itu sesuatu yang PASTI, sebab tak ada yang susah bagi Allah mengadakannya

Jalan hijrah itu pilihan, tetapi bagi sesiapa yang memilihnya, Allah akan mudahkan jalannya, Allah berikan temannya, Allah kuatkan langkahnya, sampai dapatkan ridha-Nya
Photo

Post has attachment
Nilai Ujian

Takkan mewujud mutiara andaikan kerang tak menahan rasa sakit saat terselip butir pasir, begitupun tak terbentuk pedang andaikan kurang panas tungku bakarnya

Begitu juga kesempurnaan sayap kupu-kupu adalah dari susahnya ia merobek celah kepompong, kapal yang teruji adalah saat mampu menembus ombak nan ganas

Kita semua perlu ujian untuk menjadikan diri kita lebih tinggi, lebih berharga, lebih bernilai dan lebih mulia. Penyengat diri, pelecut jiwa, harapan untuk kita kejar tiap harinya

Ujian tidak dikirimkan oleh Allah melainkan kita sudah diberi Allah kemampuan menyelesaikannya, asalkan kita mau, juga sesuikan caranya dengan apa yang ditunjukkan Allah

Sayangnya kita terlampau silau dengan hasil, lalu melupakan proses yang harus kita jalani untuk mendapatkan keinginan kita, mau nikmat tapi instan dan segera

Kita lupa dibalik kilau nama Ibrahim, ada ujian akan bapak, istri, dan anak-anaknya, dibalik rupawan Yusuf ada ujian saudara, hamba sahaya, wanita, dan penjaranya

Kita lupa bahwa Nabi Muhammad saw diiringi dengan berbagai ujian kengerian, malapetaka, dan goncangan yang dahsyat, menguji harta dan nyawa tiap kalinya

Allah meninggikan nilai kita dengan ujian, bagai pasir yang terselip, tungku api yang menempa, agar kita muncul berkilau dan kuat, bernilai dan dicari, berharga bagi semua

Bila kita tak ingin jadi manusia biasa, hadapi ujian itu, dekatkan diri dengan Allah, maka tak mungkin kita tak kuat menghadapi semua, Sebab Allah adalah sumber kekuatan

Apabila selama ini kita lulus ujian, atau bahkan selalu dekat dengan teguran, jangan-jangan selama ini kita yang tak mau mengenal dan mendekat kepada Allah?
Photo

Post has attachment
Cara Allah Menegur Kita

Kadang Allah berikan kepada kita limpahan harta untuk menguji seberapa pintar kita bersyukur mengelolanya, dan dengan kurang harta untuk melihat kesabaran kita

Bisa jadi Allah jumpakan kita dengan orang pandir yang menguji kelembutan hati, dan Allah berikan orang jenius sebagai pecut akan kelalaian dan keseriusan kita mencari ilmu

Boleh jadi juga Allah memberi kita sakit agar kita memperhatikan hak-hak anggota badan akan kebaikan yang harusnya kita tunaikan, juga maksiat yang harusnya dihindarkan

Allah menegur kita dengan banyak cara, sayang banyak diantara kita terlalu sibuk mengeluh hingga melupakan pelajaran dan hikmah yang bisa dimaknai dari tiap kejadian

Seringkali kita mengeluh, saat kurang kita menuduh Allah tidak mencukupkan kita, saat senang kita minta lebih banyak lagi, keluhan memang takkan pernah habis

Adalagi diantara kita sibuk menyalahkan yang lainnya atas apa yang harusnya menjadi tanggung jawab kita, sebab kita tak mau salah, kita tak mau dianggap punya kekurangan

Padahal keluhan dan menyalahkan hanya menambah masalah baru, kita takkan pernah mencari penyelesaian, sebab bukan salah kita, dan bukan urusan kita bisa begitu

Cobalah perhatikan sekelilingmu, ada manusia-manusia yang Allah berikan hadirnya untuk jalan mendapatkan "teguran" itu. Siapapun mereka kita masih tetap bisa belajar darinya

Tentang malam-malam yang habis tanpa sujud, tentang hari-hari yang habis tanpa hadirnya bacaan Al-Qur'an, tentang bulan-bulan yang berlalu tanpa shaum, semua itu

Allah mengingatkan kita bukan agar kita putus asa, tapi untuk mengingatkan bahwa ada jalan untuk segera meluruskan hidup kita dan kembali pada perlombaan kebaikan

Sekedar mengumpulkan bekal akan perjalanan panjang, bekal amal, bekal sahabat, bekal cinta pada Allah dan Rasul-Nya, yang makin hari makin sulit dikumpulkan

Dan bila teguran-teguran Allah itu belum mampu kita temukan, bukankah itu justru teguran yang sangat berat dari Allah? Sekeras apakah hati kita hingga tak bisa merasa?
Photo

Post has attachment
Nilai Dunia

Kalau dunia ini ada nilainya di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberikan dunia pada orang yang tidak beriman. Nyatanya, Allah perkenankan mereka merasakan dunia

Bisa jadi kita membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain punya, padahal timbangan dunia tidak ada bandingan dengan apa yang disisi Allah

Lalu apa yang bernilai? Itulah sesuatu yang hanya Allah sediakan bagi mereka yang beriman, yang Allah janjikan bagi kita, yakni maghfirah, ridha, dan kenikmaran akhirat

Saya tak hendak mengatakan dunia tak perlu kita raih, hanya saja mesti ditempatkan pada posisinya, bahwasanya ia salah satu jalan untuk beribadah, bukan jalan satu-satunya

Ada yang meraih ridha Allah lewat kelebihan hartanya, ada pula yang dari kekurangannya, ada yang hartanya berkah, ada lagi yang miskinnya lebih memberikan keberkahan

Takkan pernah habis membandingkan apa yang kita miliki, sebab ketenangan itu bukan dari apa yang dimiliki, tapi apakah yang dimiliki itu menghantarkan pada kebaikan

Ingat kenikmatan dunia itu terbatas, dan akan segera hilang saat kita memilikinya. Ingatlah apapun yang menjadi keinginan kita, nikmatnya saat belum dapat, hilang saat punya

Sekali makan di restoran incaran mungkin nikmat, tapi setiap hari dua kali di restoran yang sama malah membuat bosan. Nikmatnya dunia pasti ada batas kebosanannya

Jadi, hanya dugaan kita bahwa orang yang memiliki segalanya itu nikmat, orang yang bersangkutan yang sudah memiliki segalanya, sudah kehilangan nikmat, sudah biasa

Hidup itu hanya saling pandang, urip iku mung sawang-sinawang. Yang penting justru bagaimana memaknai hidup sesuai pinta Allah, sesuai dengan syariat Allah

Laksanakan perintah Allah, taati Allah, disitu Allah akan memberi kenikmatan pada tiap hal sederhana, dunia hanya jadi bayaran di muka, sebelum Allah penuhi di surga

Disitu letak bahagia, pada peluh yang mengalir saat mencari nafkah halal, pada khusyu jiwa saat sujud, letihnya badan saat dakwah, seraknya suara saat mendaras Al-Qur'an

Bila itu sudah Allah beri pada dirimu, bersyukurlah, sebab tidak banyak Allah berikan kemampuan pada seseorang, untuk melihat melebihi dunia, menuju yang abadi ☺️☺️☺️
Photo
Wait while more posts are being loaded