Profile cover photo
Profile photo
Aswaja Online
5 followers
5 followers
About
Posts

Post has attachment
KISAH BUNG HATTA MENUNAIKAN IBADAH HAJI DARI HONOR PENULISAN BUKU

ASWAJAONLINE.COM – Suatu hari di tahun 1952, Mohammad “Bung” Hatta ingin menunaikan ibadah haji. Sebagai wakil presiden saat itu – orang nomor dua paling berkuasa di seluruh negeri ini- ia tentu layak menggunakan fasilitas negara. Itulah pemikiran presiden Soekarno saat ia menyediakan pesawat khusus dan semua fasilitas kenegaraan yang diperlukan untuk Bung Hatta melaksanakan rukun Islam yang ke-lima.

Soekarno berpikir Bung Hatta akan pergi secara terhormat sebagai wakil presiden untuk menunaikan ibadah haji. Prakiraan Soekarno meleset. Bung Hatta langsung menolak tawaran itu sebab ia berpendapat, urusan naik haji bukanlah urusan seorang pejabat negara dengan Allah, melainkan itu urusan seorang insan manusia biasa yang pergi ke Tanah Suci. Ia ingin ke Mekkah sebagai seorang Mohammad Hatta, bukan sebagai seorang wakil presiden.

Baca selengkapnya di: http://aswajaonline.com/2018/04/bung-hatta-menunaikan-ibadah-haji-dari-honor-penulisan-buku/
Add a comment...

Post has attachment
KITAB KUNING DALAM PERKEMBANGAN ZAMAN



ASWAJAONLINE.COM – Pesantren, tempat menggali jati diri untuk lebih islami, manusiawi, dan berwawasan tinggi. Institusi ini sudah ada sebelum negara kita terbentuk, dan merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia. Diakui atau tidak, nama pesantren tidak bisa kita lepaskan dari negeri ini, manusia, dan pemimpinnya. Tercatat sudah banyak sekali kita mendengar tokoh pesantren yang menjadi pembangun, pemangku, dan penggerak atas berdirinya negeri ini sampai sekarang. Mulai dari yang baik sampai yang kurang baik, yang tertulis sampai yang terlupakan, yang dipuji sampai yang dihujat. Setidaknya sampai kita sadar bahwa manusia adalah tempatnya dosa dan tak bisa dinilai akan selalu baik dari setiap aspek kehidupannya.

Dari banyak orang-orang jebolan pesantren yang akhirnya kita lihat keberhasilan ataupun kegagalannya (walaupun dalam pandangan penulis itu hanyalah masalah personal bukan kelembagaan), kita seharusnya lebih peka dan mau melihat bagaimana mereka berhasil membangun negeri ini. Banyak faktor yang bisa kita lihat, mulai dari sistem pendidikan, penanaman moral, dan pembelajaran menjadi manusia yang lebih islami dan tentunya khairu al-nas anfa’uhum li al-nas.

Berbicara tentang sistem pendidikan, pesantren memiliki kekhasan dalam mendidik santri-santrinya. Salah satunya adalah adanya karya ulama salaf shalih yang menjadi sumber rujukan atau yang lebih kita kenal dalam dunia pesantren sebagai kitab kuning. Kitab kuning ini sudah menjadi candu dalam dunia pesantren, ketiadaannya merupakan kemustahilan dan bukanlah pesantren jika tidak ada kitab kuning dalam pengajarannya. Apapun ilmunya mulai dari fikih, nahwu, sharaf, tafsir, hadits, dan banyak lagi keilmuan Islam yang menggunakan kitab kuning sebagai sumbernya.

Baca selengkapnya di: http://aswajaonline.com/2018/04/kitab-kuning-dalam-perkembangan-zaman/
Add a comment...

Post has attachment
KONSEP TASAWUF ALA SYAIKH JUNAID AL BAGHDADI

ASWAJAONLINE.COM – Dalam bidang tasawuf, golongan Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) memegang teguh prinsip-prinsip dari dua tokoh besar sufi, yaitu Imam al Junaid al Baghdadi dan Imam al Ghazali. Namun dalam hal ini, penulis akan memaparkan empat alasan mengapa aliran Aswaja mengambil konsep sufistik dari imam besar al Junaid al Baghdadi yang dijuluki Syaikh at Tha’ifah as Sufiyyah wa Sayyiduha (Tuan Guru dan pemimpin kaum sufi).

Nama lengkapnya adalah Abu al Qasim al Junaid bin Muhammad bin al Junais al Khazzaz al Qawariri al Nahawandi al Baghdadi. Dari namanya bisa diketahui bahwa Imam Junaid berasal dari Baghdad dan diketahui wafat pada 297 H/910 M. Dalam kesehariaannya Imam Junaid bekerja sebagai pedagang kain sutera. Ia mendapat kedalaman ilmu di bidang tasawuf dari gurunya, yaitu Sari bin al Mughallis al Saqathi (w. 253 H/876 M), seorang tokoh sufi terkemuka yang juga saudara kandung dari ibunya, alias pamannya.

Sejak usia 20 tahun ia mampu mengeluarkan fatwa, dan bahkan jauh sebelum itu, ketika berusia tujuh tahun, ketika ditanya tentang definisi syukur, secara tepat ia menjawab: “Jangan sampai anda berbuat maksiat dengan nikmat yang diberikan Tuhan.”

http://aswajaonline.com/2018/04/konsep-tasawuf-ala-syaikh-junaid-al-baghdadi/
Add a comment...

Post has attachment
ABU NAWAS, KEBODOHAN BERJAMAAH

Abu Nawas berjalan di tengah pasar sambil menengadah melihat ke dalam topinya. Orang-orang memperhatika ulah Abu Nawas itu dengan wajah heran. Apakah Abu Nawas telah gila ? Apalagi dia melihat kedalam topinya sambil tersenyum dan penuh bahagia.

Salah seorang datang menghampiri Abu Nawas

“Wahai saudaraku, apa yang sedang kamu lihat di dalam topi itu?
“Aku sedang melihat sorga lengkap dengan barisan bidadari..”, kata Abu Nawas dengan wajah cerah dan senyum puas.
“Coba aku lihat !”
“Saya engga yakin kamu bisa melihat seperti yang saya lihat”
“Mengapa?”
“Karena hanya orang yang beriman dan sholeh saja yang bisa lihat sorga di topi ini.” Kata Abu Nawas meyakinkan.
“Coba aku lihat” Kejar si penanya penasaran.
“Silahkan” kata Abu Nawas…

Orang itu melihat kedalam topi itu dan sejenak kemudian dia melihat kearah Abu Nawas, “Benar kamu, Aku melihat sorga di topi ini dan juga bidadari. Subhanallah! Allahuakbar!”, kata orang itu berteriak dan didengar orang banyak.
Abu Nawas tersenyum.

Sementara orang banyak yang menyaksikan ulah Abu Nawas ingin pula membuktikan apakah benar ada sorga di dalam topi itu. Abu Nawas mengingatkan kepada mereka semua: “Ingat hanya orang beriman dan sholeh yang bisa lihat sorga didalam ini. Yang tak beriman tidak akan melihat apapun.”
Satu demi satu orang melihat kedalam topi Abu Nawas itu. Ada yang dengan tegas menyatakan melihat sorga dan ada juga yang mengatakan Abu Nawas bohong.
Abu Nawas tetap tenang saja sambil menebar senyum. Akhirnya, bagi mereka yang tidak melihat sorga di dalam topi itu melaporkan kepada Raja.
Bahwa Abu Nawas telah menebarkan kebohongan kepada orang banyak.
Raja memanggil Abu Nawas menghadap raja.

Di hadapan Sang Raja,
“Abu Nawas!!” seru Raja, “benarkah kamu bilang di dalam topi mu bisa nampak sorga dengan sederet bidadari cantik?”
“Benar raja, tapi yang bisa melihat hanya orang beriman dan sholeh. Bagi yang tidak bisa melhat itu artinya dia tidak beriman dan kafir”
“Oh begitu, coba saya buktikan apakah benar cerita kamu itu.” Kata Sang Raja, yang segera melihat kedalam topi Abu Nawas dari sudut kiri dan kanan, atas dan bawah.

Akhirnya raja terdiam seakan berpikir “Benar tidak nampak sorga di dalam topi ini. Tapi andaikan aku bilang tidak ada sorga maka orang banyak akan tahu aku termasuk tidak beriman dan termasuk kafir. Tentu akan hancur reputasiku”
Demikian kira kira yang di pikirkan Raja. Akhirnya dengan wajah yang seakan girang dan penuh kemantaban, Raja bersorak: “Benar! Saya sebagai saksi, bahwa di dalam topi Abu Nawas kita bisa melihat sorga dengan sederetan bidadari!”. Orang banyak akhirnya menerima cerita Abu Nawas karena kawatir berbeda dengan Raja.

Moral value: Iman adalah antara hamba dengan Robbnya, iman tidak butuh pengakuan manusia dan makhluk lain. Semoga Allah subhanahu ‘azza wajalla menjaga kita dari iman yang bukan karenaNya. Aamiin.

http://aswajaonline.com/2017/02/abu-nawas-kebodohan-berjamaah/
Add a comment...

Post has attachment
Mengenal Lebih Dekat KH Nafi Abdillah, Kyai Khos Kajen Pati

KH. Ahmad Nafi’ Abdillah adalah putra KH. Abdullah Zein Salam bin KH. Abdussalam. Kakeknya KH. Abdussalam adalah pendiri Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen yang dulu dikenal dengan Sekolah Arab.

Ayahandanya KH. Abdullah Zen Salam adalah penerus estafet kepemimpinan Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM), setelah KH. Mahfudh Salam, ayahanda KH. MA. Sahal Mahfudh. Kyai Nafi’ Abdillah sendiri adalah penerus estafet kepemimpinan Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) setelah wafatnya KH. MA. Sahal Mahfudh.

Beliau adalah sosok yang bersahaja, santun, dan ramah kepada siapapun. Sebagai seorang mursyid thariqah, beliau mempunyai jamaah yang tingkat keilmuan dan strata sosialnya beragam, namun beliau mampu mengayomi semua tanpa diskriminasi.

Setelah membaca kitab Ushul Fiqh Ghayatul Wushul karya Zakariyya Al-Anshari rahimahullah, Kiai Nafi’ dengan tenang menulis keterangan di papan tulis secara sistematis dengan bagan-bagan yang memudahkan para siswa untuk memahami materi yang tergolong sulit ini dalam bentuk bahasa arab, kemudian beliau menjelaskannya dengan lugas dan renyah.

Pancaran kewibawaan beliau dalam mengajar berbarengan dengan keteladanan beliau dalam mengajar. Beberapa karakter utama beliau adalah:

Pertama, tawadlu’, rendah hati. Beliau sosok yang tidak ingin menonjolkan diri. Jarang beliau berkenan memberikan mauidhah hasanah di depan panggung, kecuali dalam momentum tertentu, seperti haul Masyayikh PIM yang biasa digelar akhir tahun oleh Keluarga Mathaliul Falah (KMF) sebagai organisasi alumni PIM. Dengan nada guyon, beliau sering mengatakan kepada para tamu, bahwa pondok Mathaliul Huda (PMH Pusat) bukan pondok beliau. Hal ini mencerminkan kerendah hatian beliau dalam bertutur sapa dan bersikap.

Kedua, istiqamah. Beliau mewarisi sifat utama ini dari bapaknya KH. Abdullah Zein Salam. Beliau masuk dan keluar dari kelas tepat waktu sebagai teladan bagi para guru. Menurut beliau, mengajar adalah wajib yang harus dilaksanakan dan tidak boleh ditinggal kecuali dengan alasan wajib. Hal ini sesuai kaidah fiqh “al-wajibu la yutraku illa lil-wajibi”, kewajiban tidak boleh ditinggalkan kecuali karena sesuatu yang wajib pula. Kewajiban tidak boleh ditinggalkan untuk sesuatu yang hukumnya sunnah, apalagi mubah.

Ketiga, ikhlas. Beliau begitu menekankan pentingnya ikhlas sebagai intisari amal. Hanya dengan ikhlas (beramal hanya karena Allah), seseorang dekat dengan Allah dan hatinya tenang dari segala gangguan yang datang dari setan, nafsu dan sesama manusia. Jangan melakukan sesuatu dengan motivasi selain Allah, karena rugi dunia-akhirat. Dalam mengajar misalnya, ikhlas adalah faktor utama terpancarnya nur (cahaya) ilmu menembus batin siswa. Tanpa keikhlasan, sangat sulit melahirkan siswa yang shaleh. Dengan ikhlas, segala urusan ditujukan dan dihadapkan kepada Allah SWT.

Keempat, mencintai ilmu. Beliau adalah sosok yang tekun membaca kitab, mulai kitab kecil, seperti Safinatus Shalah karya Imam Nawawi al-Bantani yang menjelaskan tata cara shalat secara detail, sampai kitab tasawuf legendaris karya Ibnu Athaillah al-Sakandari, yaitu Hikam. Pengajian kitab ini bahkan beberapa bulan sudah diadakan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) bersama para guru. Pengajian beliau di Masjid Jami’ Kajen dan di ndalem selalu diikuti ratusan bahkan ribuan jama’ah yang begitu merindukan petuah-petuah emas dari beliau.

Kelima, menyayomi dengan hati dan tidak mengintimidasi. Kesadaran hati beliau kedepankan dari pada pemaksaan kehendak. Dengan pendekatan hati, seseorang menjadi sadar. Ketika dalam suatu rapat di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM), guru-guru sedikit gundah karena masalah tertentu, beliau memberikan nasehat mengutip ucapan (dawuh) ayahandanya KH. Abdullah Zein Salam bahwa dalam hidup prinsip yang harus dipegang adalah ojo gelo (jangan menyesal) dengan setiap kejadian karena semua sudah menjadi takdir Allah SWT. Sehingga sebagai hamba Allah harus menerima dan ridla dengan takdir Allah. Semua guru ketika mendengarkan nasehat beliau ini tertegun, sadar, dan menjadi ingat Allah sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan yang penuh cobaan dan tantangan.

Keenam, teguh memegang prinsip. Ketika mempunyai prinsip, beliau pegang dengan disiplin, sehingga orang lain segan. Dengan kegigihan memegang prinsip ini, beliau menjadi panutan bagi semua orang. Prinsip-prinsip utama beliau adalah memegang teguh tafaqquh fiddin, mencintai auliyaillah (wali-wali Allah), dan disiplin dalam menjalankan amanah.

Ketujuh, membimbing dengan keteladanan. Sebagai seorang ulama’ kaidah lisanul hal afshahu min lisanil maqal, tindakan lebih efektif dari pada ucapan, benar-benar beliau praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau adalah sosok dengan pertahanan mental yang sangat tinggi, sehingga dalam menyikapi segala hal selalu menampakkan kesejukan, kematangan, dan kearifan, bukan luapan emosi dan ejekan yang justru memperkeruh suasana dan tidak menjadi solusi. Sebagai seorang pemimpin dan mursyid thariqah, ucapan dan tindakan beliau menjadi marji’ul ummah (referensi umat) dalam bersikap dan bertindak.

Kedelapan, tegas dalam mengambil keputusan. Dalam mengambil keputusan apapun, ketegasan beliau jaga. Seorang pemimpin tidak boleh plin-plan dalam mengambil keputusan karena keputusannya diikuti oleh seluruh anggota tanpa terkecuali. Dalam hal masuk sekolah, beliau begitu gigih melaksanakannya. Beliau akan tetap masuk mengajar, meskipun banyak siswa yang tidak hadir. Ketegasan beliau ini menjadi teladan bagi para pemimpin di negeri ini sehingga keputusan yang diambil diikuti oleh seluruh anggotanya.

Kesembilan, kaderisasi. Kyai Nafi’ Abdillah adalah sosok yang memperhatikan kaderisasi, sehingga memperhatikan pertumbuhan kader-kader muda, karena merekalah yang nanti meneruskan estafet keilmuan dan perjuangan ulama.

Di ndalem beliau saat itu, selain beliau ada KH. Zainuddin Dimyati, KH. Ali Fattah Ya’qub, KH. Ahmad Yasir, dan K. Nurhadi Pesarean. Beliau begitu antusias melihat semangat siswa-siswi dalam tafaqquh fiddin.

Ya Allah, ampunilah semua dosa guru kami ini, siramilah dengan rahmah dan ridla-Mu, tempatkan beliau dalam maqam yang mulia, tabahkan keluarga dan santri yang ditinggalkan, dan lahirkan ulama-ulama yang sejuk, santun, dan ramah seperti beliau, Amiin ya Rabbal Alaamiin.

*) Sumber: Jamal Ma’mur A, Santri KH. A. Nafi’ Abdillah di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen Tahun 1995-1997.
Add a comment...

Post has attachment
Abah Nafi, Kyai Khos Kajen Pati Tutup Usia di Turki

Penyebab wafatnya putra ulama khos NU KH Abdullah Salam ini diperkirakan kecapaian dan faktor udara dingin. Informasi yang dihimpun menyebutkan, Abah Nafi’ ke Turki setelah menjalani ibadah umrah. Sebelum ke Turki, ia mampir ke Uzbekistan.

Begitu kabar tersebut sampai di Pati, rumah duka almarhum di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, ramai dikunjungi masyarakat, terutama kalangan kiai dan santri di lingkungan Kajen. Kabar tersebut dibenarkan Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), KH Abdul Ghaffar Rozin. Dia mengaku baru rapat bersama keluarga untuk mengurus jenazah, kemarin petang.

Semalam, muncul informasi pemulangan jenazah dari Istanbul akan dilakukan Selasa (21/2) dini hari. Diperkirakan sampai Jakarta pada Selasa petang jam 18.30 dan tiba di Kajen jam 21.00. Kiai Nafi’sangat dihormati, baik di level Pati maupun nasional. Bahkan, banyak yang menyebut Abah Nafi’mirip dengan sang ayah, KH Abdullah Salam yang dikenal sebagai tokoh sufi. Kendati hidup di desa, Abdullah Salam banyak menjadi rujukan ulama dari penjuru negeri, tak terkecuali KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, saat menjabat sebagai presiden, Gus Dur sempat ke Kajen untuk mengunjungi Abah Salam.
Add a comment...

Post has attachment
7 PRINSIP DASAR THORIQOH, MENURUT SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANI

Seorang salik adalah seseorang yang menempuh jalan sufi untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya, yang disebut juga dengan jalan suluk. Dengan kata lain, seorang salik adalah seorang penempuh jalan suluk. Menurut Sulthanul Auliya, terdapat 7 prinsip dasar bagi salik dalam berthoriqoh, yakni:

1. Mujahadah

Allah SWT berfirman, “Orang-orang yag berjihad (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami,” (Al-‘Ankabut [29]: 69).

Imam Juneid Al-Baghdadi mengatakan, “Aku mendengar As-Sari As-Saqathi berkata, ‘Wahai anak muda! Bekerja keraslah sebelum kalian mencapai usia sepertiku yang lemah dan tak bisa melakukan amal secara optimal.’ Hal ini dikatakan beliau setelah melihat tidak ada anak-anak muda yang gigih beribadah seperti dirinya.”

Ibrahim bin Adham menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai derajat orang-orang yang shaleh hingga ia melawati enam perkara: 1) Menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesusahan; 2) Menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan; 3) Menutup pintu istirahat dan membuka pintu kerja keras; 4) Menutup pintu tidur dan membuka pintu begadang; 5) Menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan; 6) Menutup pintu harapan dan membuka pintu persiapan menyambut kematian.

2. Tawakal

Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi keperluannya (QS Ath-Thalaq [65]: 3). Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman,” (QS Al-Maidah [5]: 23)

Anas ibn Malik r.a. meriwayatkan, seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW dengan mengendarai seekor unta. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membiarkan untaku tanpa diikat, lalu aku bertawakal?” Beliau menjawab, “Ikat dulu untamu! Lalu bertawakal!”

Abu Turab Al-Nakhsyabi mengatakan, tawakal adala melemparkan badan dalam penghambaan (‘ubudiyyah) dan mengaitkan kalbu dengan ketuhanan (rububiyyah), serta merasa tenang dengan apa yang ada. Jadi, jika diber, dia bersyukur dan jika tidak diberi, dia bersabar.”

3. Akhlak

Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak agung,” (Al-Qalam [68]: 4). Anas ibn Malik ra. berkata bahwa Rasullah Saw. pernah ditanya tentang orang mukmin yang imannya paling utama. Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.”
Akhlak adalah hal yang paling utama karena akhlak mencerminkan jati diri yang sebenarnya. Manusia terkubur oleh kelakuannya dan terkenal karena kelakuannya juga. Ada yang mengatakan, akhlak yang baik diberikan secara khusus oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw. sebagaimana mukjizat dan keutamaan yang Dia berikan kepadanya. Namun, Allah tidak memuji beliau karena prestasi beliau seperti pujian-Nya kepada beliau karena akhlak beliau. Ada yang berpendapat, Allah memuji Nabi Muhammad karena akhlaknya yang agung karena beliau adalah orang yang mendermakan dunia dan akhirat (jad bi al-kaunain) dan mencukupkan diri dengan Allah. Budi pekerti yang agung berarti tidak memusuhi dan tidak layak dimusuhi karena makrifat yang mendalam akan Allah.

4. Syukur

Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)mu,” (Ibrahim [14]: 7). Menurut ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh pemberi nikmat secara khusus. Allah menyebut dirinya sebagai “Yang Maha Mensyukuri” (al-Syakur) dalam arti yang meluas. Maksudnya, dia akan membalas para hamba atas syukur mereka.

Ada yang mengatakan, hakikat syukur adalah memuji orang yang telah berbaik hati memberi (al-muhsin) dengan mengingat-ingat kebaikannya. Syukur hamba kepada Allah berarti memuji-Nya dengan mengingat-ingat kebaikan yang Dia berikan. Sementara, syukur Allah kepada hamba adalah pujian-Nya atas si hamba dengan menyebut kebaikannya kepada-Nya. Selanjutnya, kebaikan budi hamba adalah ketaatannya kepada Allah, dan kebaikan budi Allah adalah kemurahan-Nya memberikan nikmat kepada hamba.

5. Sabar

Allah berfirman, “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,” (An-Nahl [16]: 127). Aisyah ra meriwayatkan, Nabi Saw. bersabda, “Sabar yang sesungguhnya adalah sabar ketika menghadapi guncangan yang pertama.” Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, hartaku telah habis dan tubuhku digerogoti penyakit.” Nabi Saw. menukas, “Tidak ada kebaikan pada hamba yang tidak kehilangan hartanya dan tidak sakit tubuhnya. Sesungguhnya jika Allah SWT. mencintai seorang hamba, maka Dia timpakan cobaan kepadanya.

Jika Dia menimpakan cobaan kepadanya maka Dia akan membuatnya bersabar.”
Sabar ada tiga macam, 1) Sabar karena Allah, yakni sabar dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 2) Sabar bersama Allah, yakni sabar menerim qadha dan skenario Allah pada dirimu berupa cobaan dan kesulitan. 3) Sabar atas Allah, yakni bersabar menanti apa yang dijanjikan Allah berupa rezeki, bebas dari masalah, kecukupan, pertolongan, dan ganjaran di akhirat.

6. Ridha

Allah berfirman, “Allah meridai mereka dan mereka pun meridai Allah,” (Al-Maidah [5]: 119). Rasulullah bersabda, “(Manis) rasa keimanan hanya bisa dicicipi oleh orang yang rida menerima Allah sebagai Tuhan.” Allah juga berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (Al-Baqarah [2]: 216).

Abu Ali Al-Daqqaq ra mengatakan, rida bukanlah tidak merasakan cobaan, akan tetapi rida sesungguhnya adalah tidak memprotes ketentuan dan qadha. Apakah seseorang bisa mengetahui bahwa Allah meridainya? Dia bisa mengetahuinya. Jika seseorang merasakan hatinya rida kepada Allah maka dia tahu bahwa Allah rida kepadanya.

7. Jujur (Shiddiq)

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar,” (At-Taubah [9]: 119). Diriwayatkan Abdullah ibn Mas’ud ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika seorang hamba selalu berkata benar dan terus bergiat mengupayakan kebenaran, maka Allah akan menetapkannya sebagai shiddiq (orang yang selalu berkata benar).”

Shidiq adalah pilar dan penyempurna segala hal. Ia merupakan derajat kedua setelah derajat kenabian. Shadiq adalah sifat yang melekat pada seseorang yang jujur/berlaku benar. Sedangkan shiddiq adalah bentuk mubalaghah (hiperbola), diberikan kepada orang yang terus-menerus melakukan kejujuran/kebenaran, sehingga menjadi kebiasaan dan karakternya. Ada tiga hal yang menjadi buah manis orang yang berlaku shidq dan tidak akan lepas darinya: kenikmatan, wibawa, dan keramahan.



-Disarikan dari At-Tasawwuf dalam kitab Al-Gunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Add a comment...

Post has attachment
Apakah Arti Dari Kafir?

Kafir adalah istilah keagamaan (Islam) dalam bahasa Arab, yang secara harfiah berarti “(orang) yang menutup diri”. Bentuk noun-nya adalah “kufur” yang berarti “penyangkalan atau pengingkaran”. Secara istilah (terminologis), “Kafir” berarti “orang yang menutup atau menyangkal atau mengingkari “Kebenaran” (dengan K besar yang berarti Tuhan), sekaligus menutupi atau mengingkari bukti-bukti tentang adanya Kebenaran Tuhan.

Selengkapnya:
http://aswajaonline.com/2017/02/arti-dari-kafir/
Apakah Arti Dari Kafir?
Apakah Arti Dari Kafir?
aswajaonline.com
Add a comment...

Post has attachment
Ulama NU Semarang Satukan Barisan Lawan Intoleransi

ASWAJAONLINE.COM, Semarang – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang menegaskan akan terus bersinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melawan berkembangnya sikap dan perilaku intoleransi di masyarakat. Sebab apabila perilaku intoleransi dibiarkan membudaya akan membahayakan ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyarariyah. Pada akhirnya akan membahayakan persatuan dan kesatuan serta kedaulatan NKRI.

”Makanya di tahun 2017 ini kami akan memperkuat pengkaderan melalui pendidikan kader berbagai jenjang untuk mengembangkan sikap tasamuh atau toleran, menghargai perbedaan dan pluralisme dan menjadi garda terdepan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tegas Kiai Hanief.

Dia mengatakan hal itu dalam silaturahmi Forum Mustasyar di kediaman Dr KH Muslihan Jalan Gondomono no.2, Kokrosono Semarang belum lama ini.

Ketua Tanfidziyah KH Anasom M.Hum menjelaskan, Silaturahmi Mustasyar diselenggarakan untuk kali pertama dalam rangka mendengarkan masukan, saran dan kritik bagi pengurus agar dalam menjalankan roda organisasi makin terarah dan tepat sasaran. ”Kami sengaja hadirkan para sesepuh agar memberikan kritik dan masukan serta saran kepada pengurus. Dan alhamdulillah semua masukan itu sangat bermanfaat,” kata dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo itu.

Baca selengkapnya di:
Add a comment...

Post has attachment
MENGENAIL SYAIKH MUHAMMAD ZAINI ABDUL GHANI, ULAMA BESAR DARI MARTAPURA


ASWAJAONLINE.COM – Kyai Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Beliau adalah sufi termasyhur, juga sosok Wali Allah kharismatik Martapura, Kalimantan Selatan, yang menyatukan syari’at, tarekat dan hakikat dalam dirinya.
Beliau lebih dikenal dengan sebutan Guru Ijai atau Guru Sekumpul, dan juga salah seorang ulama yang mempopulerkan Simthad Durar atau Maulid Habsyi di Kalimantan Selatan. Pada zamannya Guru Ijai adalah satu-satunya ulama Kalimantan, atau mungkin di Indonesia, yang mendapat otoritas untuk mengijazahkan Tarekat Samaniyyah yang didirikan oleh Muhammad Saman.
Zaini Abdul Ghani atau Guru Ijai lahir pada 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 H) di Kampung Tunggul Irang Seberang, Martapura. Beliau masih keturunan dari ulama besar Syekh ARSYAD AL-BANJARI. Di masa kecilnya beliau memiliki keistimewaan yakni tak pernah mengalami “mimpi basah” (ihtilam). Pendidikan pertamanya diberikan oleh kedua orang tuanya, Haji Abdul Ghani dan Hajah Masliah binti Haji Mulya, dan oleh neneknya, Hajah Salbiyah. Bersama neneknya inilah beliau suka sekali membaca al-Qur’an. Pada usia tujuh tahun beliau masuk madrasah di Kampung Keraton, Martapura. Pada masa kecil ini beliau belajar al-Qur’an pertama kali kepada Guru Hasan. Orang tuanya, yang tergolong orang sederhana, selalu membekalinya sebotol minyak untuk diberikan kepada gurunya ini. Sejak usia 10 tahun Guru Ijai telah dikaruniai kassyaf hissi, yakni mampu melihat dan mendengar apa-apa yang tersembunyi atau hal-hal ghaib. Pada usia 14 tahun beliau dikaruniai futuh (pencerahan spiritual) saat membaca sebuah tafsir al-Qur’an. Pada masa remaja ini pula beliau mengalami perjumpaan spiritual dengan Sayyidina Hasan dan Husain, cucu Rasulullah. Kedua cucu Rasulullah ini masing-masing membawa pakaian dan mengenakannya langsung kepada beliau lengkap dengan sorbannya.
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded