Profile cover photo
Profile photo
Abu Salma Muhammad
2,055 followers -
A man who just only want to be better
A man who just only want to be better

2,055 followers
About
Posts

Post has attachment
KAPAN SEBAIKNYA HARTA WARIS DIBAGIKAN ?
Tanya
Tanya :
Assalamu’alaykum…, ustadz, afwan.. kapankah waktu yg tepat utk membagikan harta warisan, ketika seseorng sdh meninggal dunia? Adakah dalil ttg hal wkt pembagian harta warisan?
jazakallaah khayran…
➖➖➖➖➖➖➖➖
Jawab
Bismillaah..
➖➖➖➖➖➖
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Waktunya adalah segera, tidak menunda² tanpa ada alasan yg benar.
Apabila mayit yg meninggalkan warisan telah selesai urusannya, seperti penyelenggaraan kematian, hutang piutang, dll, maka hendaknya harta warisnya segera dibagikan dan tdk ditunda²…
Penundaan harta waris utk segera dibagikan seringkali berpotensi menimbulkan masalah dan konflik, serta menyebabkan kewajiban yg blm tertunaikan dari peninggalan sang mayit.
Karena itu, pembagian harta warisan itu adalah disegerakan, sebagaimana keumuman
Firman Allâh :
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم…
Bersegeralah utk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian (QS Ali Imran : 133)
Dan hadits Nabî
بادروا باالاعمال …
Bersegaralah beramal shalih…
Wallahu a’lam
Add a comment...

Post has attachment
TENTANG PUASA SUNNAH
Tanya
Bismillah,
Ustadz…Apakah seseorang yang sudah berpuasa syawal sebanyak 6 hari di awal bulan kemudian saat masuk tanggal utk puasa ayyamul bidh dia sdh tdk bisa lagi berpuasa krn sudah gugur darinya puasa ayyamul bidh tsb krn puasa syawal yg dilakukannya sdh dianggap puasa 3 hari tiap2 bulan baik dikerjakan di awal, tengah maupun akhirnya ?
Sebagaimana hadits ‘Aisyah : Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, baik di awal bulan atau pertengahan atau di akhir bulan.
Sama spt shalat tahiyyatul masjid yg gugur saat seseorang masuk masjid kmudian lgsg shalat rawatib.
Mohon penjelasannya Ustadz…
Jazaakallaahu khairan
➖➖➖➖➖➖➖➖
Jawab
Bismillah
➖➖➖➖➖➖➖
Puasa sunnah yang diterangkan secara spesifik itu berdiri sendiri²…
Karena itu orang yang berpuasa Senin Kamis, lalu mendapati ayyamul bidh, maka ia tetap mendapatkan ganjaran atas puasa ayyamul bidh-nya.
Demikian pula orang yg puasa Arofah di samping kebiasaan puasa Dawud atau Senin Kamis, maka ia tetap memperoleh pahalanya insya Allâh.
Karena itu seorang yg berpuasa 6 hari di bulan Syawal dg niat khusus Syawal berurutan, lalu setelah itu ia puasa Dawud, atau Senin Kamis, atau ayyamul bidh, maka ini diperbolehkan, bahkan mendapatkan pahala atas ganjaran pahalanya insya Allâh..
Dalam kaidah disebutkan
ما كان أكثر فعلا اكثر فضلا
Semakin banyak aktivitas (ibadah atau amal shalih yg dikerjakan), maka semakin banyak pula keutamaan (dan ganjarannya)…
Karena itu, para ulama banyak yg menerangkan misalnya saat sholat witir 3 rakaat, antara yg 1 salam dengan 2 salam. Mereka banyak yg menyatakan 2 salam lbh afdhol (yaitu 2 rakaat salam + 1 rakaat salam), karena gerakan sholat lebih banyak sehingga lbh besar pahalanya.
Demikian pula org yg berpuasa Dawud, tentunya lbh banyak amal puasanya dibandingkan dg yg puasa Senin Kamis saja… Maka Allah tdk akan menyia-nyiakan amal shalih hamba²-Nya…
NB : tapi jangan sampai rancu dengan hadits Nabî yang shahih
إن أحب الأعمال إلى الله ادومها وان قل
Sesungguhnya amalan yg paling dicintai Allâh adalah yg ajeg/konsisten walaupun sedikit…
Tentunya org yg rutin puasa Senin Kamis, lbh baik daripada org yg puasa Dawud hanya seminggu, lalu ga puasa lagi… Kemudian bbrp waktu lagi puasa Senin Kamis lagi, lalu berhenti lagi… Tidak konsisten…
Wallahu a’lam
✍@abinyasalma
________________
✉Grup WhatsApp Al-Wasathiyah Wal I’tidål
Add a comment...

Post has attachment
APAKAH KHITBAH BISA DIBATALKAN ?
Tanya
Ustadz, apakah Khitbah itu bisa dibatalkan ?
Syukron Ustadz..
➖➖➖➖➖➖➖
Jawab
Khitbah boleh dibatalkan baik dari fihak pria maupun wanita. Apalagi jika proses awalnya sudah tdk benar, dimana orang tua si akhwat tdk mau memperlihatkan putrinya saat nazhor. Padahal nazhor itu tuntutan yg penting dari Nabî.
Ketika Mughirah bin Syu’bah mengkhitbah seorang wanita, Nabi bertanya kepadanya apakah sudah nazhor (melihat wanita tsb)? Lalu Syu’bah menjawab belum. Lantas Nabî memerintahkan :
أنظر إليها فإنه أحرى أن يؤدم بينكم
Lihatlah (nazhorlah) dulu wanita tsb, karena dg nazhor ini akan lbh melanggengkan pernikahan kalian (dishahihkan Syaikh al-Albânî dalam Shahihah)
Apabila seorang pria atau wanita sdh saling melihat, dan salah satu atau keduanya merasa tdk ada ketertarikan, maka boleh – bahkan dianjurkan- utk tdk melanjutkan proses dan mencari pasangan lainnya yg lbh membuatnya tertarik…
Memang benar, kecantikan atau ketampanan bukanlah segalanya. Namun, memandang fisik agar tertarik adalah suatu hal yg sangat sangat manusiawi, bahkan diajarkan oleh Nabî utk nazhor terlebih dahulu calon pasangan kita…
Karena pasangan kita tsb yg akan menjadi partner hidup kita seumur hidup (biidznillah), sehingga mencari ketertarikan baik itu dari segi fisik adalah suatu hal yg dituntut…
Tdk boleh kita menikah karena terpaksa, atau seperti menikah dg kucing dalam karung yg tdk kita ketahui…
Ketika sahabat Muhajirin hendak menikah dg wanita Anshar (Madinah), apa kata Nabî???
Nabi tdk lgsg menyuruhnya nikah. Namun Nabi katakan :
أنظر إليها فإن في أعين الأنصار شيئا
Nazhorlah dulu, karena di mata kaum anshor itu ada sesuatu
Yaitu matanya agak kecil (sipit) sehingga menyebabkan sahabat Muhajirin tadi tdk tertarik dg wanita tsb…
Intinya, jika adik anti ragu dan merasa tdk tertarik dg akhwat tsb, lebih baik dia berkata jujur dan terbuka, namun dg cara baik dan tdk menyakitkan hati, agar mundur dari proses dan tdk melanjutkan…
Wallahu a’lam
Add a comment...

Post has attachment
MENGIRIM KARANGAN BUNGA SEBAGAI TANDA DUKA CITA, BOLEHKAH?
Tanya
Bismillah… Afwan Ustadz
Bagaimana hukumnya mengirim karangan bunga sbg tanda duka cita kpd klrg ahlul kubur yg beragama Islam atau non muslim mhn penjelasan dan sarannya Ustadz
Syukron jazaakallahu khayran
➖➖➖➖➖➖➖
Jawab
Mengirim karangan bunga bagi mayit, baik itu mayit muslim, apalagi non muslim, maka hukumnya – sejauh yang saya ketahui dan fahami – adalah tidak boleh, setidaknya dibenci (makruh) jika tdk mau dikatakan haram.
Alasannya :
➖Takziyah itu bagian dari ibadah yang sepatutnya kita meniru cara Nabî dalam bertakziyah. Sedangkan Nabî tdk pernah bertakziyah dg mengirimkan bunga padahal di zaman beliau ada bunga. Demikian pula dg para sahabat. Karena itu, perbuatan ini berpotensi masuk ke dalam amaliyah bid’ah.
➖Mengirimkan karangan bunga itu bukan merupakan kebiasaan Islâm, namun kebiasaan orang kafir. Karena itu hal ini termasuk perbuatan tasyabbuh (meniru²) perbuatan orang kafir yang dilarang Nabî.
➖Keluarga mayit tdk lah butuh dg karangan bunga atau yg semisal. Bahkan, karangan tsb cenderung menjadi sampah tdk berguna yg hanya menghabiskan tempat. Sehingga tdk malah membantu, namun malah menyusahkan.
➖Karangan bunga itu tdk murah dan tdk begitu berguna, sehingga perbuatan ini termasuk tabdzîr atau membuang² harta.
➖Seringkali dalam karangan bunga dituliskan kata fihak yg mengirimkan, seperti “yang turut berduka cita, Fulan.” Perbuatan seperti ini berpotensi melahirkan rasa pamer, ingin dilihat (riya’) atau ingin didengar (sum’ah). Bahkan bisa jadi menimbulkan rasa sombong, berbangga diri dan melampaui batas lantaran ingin menunjukkan status dan strata sosial.
Dll.
Wallâhu a’lam
Add a comment...

Post has attachment
MENDIDIK ANAK DENGAN MEMUKUL??
Ketika bicara hukuman kpd anak, baik berupa cambuk, rotan, tongkat atau alat pukul lainnya, jangan langsung berfikiran negatif… Langsung dianggap KDRT terhadap anak, bentuk penganiayaan atau kezhaliman kepada anak.
Sekali-kali tidak! Asalkan selaras dengan syariat Islam yang rahmah dan ramah terhadap anak kecil.
Islam membolehkan menghukum anak dengan pukulan, yang tidak membekas (membuat memar apalagi sampai berdarah), ke bagian yang tidak fatal (seperti muka, perut dan semisalnya).
Hukuman pukul di dalam Islâm adalah bentuk pendidikan dan pendisiplinan yang tegas namun tetap dalam bingkai kasih sayang.
Orang tua yang baik, tidak akan membiarkan anaknya tergelincir jatuh dalam kesalahan. Mereka pasti berusaha menarik dan berkeinginan agar anak²nya bisa menjadi anak yang shalih…
Berikut ada risalah singkat yang menarik, saya dapatkan dari Ust Hamidin as-Sidawi yang beliau share di grup Multaqô ad-Du’ât ilallâh. Karena banyak sekali Faidahnya, maka saya share berikut artinya…
Judulnya (Faidah) Keutamaan menggantung cambuk di rumah
▪️ Rasulullah ﷺ bersabda :
(( علِّقوا السَّوطَ حيثُ يراه أهلُ البيتِ ، فإنَّه أدَبٌ لهم ))
Gantunglah cambuk di tempat yang dapat dilihat keluargamu. Karena hal ini dapat mendidik mereka
[Dihasankan oleh Syaikh al-Albânî dalam Shahîhul Jâmi’ no 4022
Komentar :
▫️ في الحديث :
يمكن استعمال التهديد بالضرب ، فقد يكون أنجع من الضرب نفسه ،وقد جاء في تعليق
السوط أو العصا في المنزل ليدرك الطفل أن ثمة عقابا على خطئه الذي يستحق العقاب ، والذي يكون بسبب تجاوزه حدود الأدب والخلق .
Di dalam hadits tsb, menunjukan bahwa menggunakan ancaman hukuman pukul itu lebih efektif daripada hukuman pukul itu sendiri.
Karena dengan sekedar menggantungkan cambuk atau tongkat di rumah, bisa menyadarkan anak akan resiko hukuman atas kesalahannya yang memang layak dihukum, yang disebabkan karena mereka melanggar batasan etika atau akhlak.
▪️Rasulullah ﷺ bersabda :
(( لا يُجْلَدُ فوق عشرِ جلْداتٍ إلا في حدٍّ من حدودِ اللهِ ))
Hendaklah tidak mendera lebih dari 10 cambukan kecuali di dalam hukuman had yang Allah tetapkan
[Muttafaq alaihi]
Komentar
الضرب ليس هو الأصل أبداً، ولا يلجأ إليه إلا عند استنفاذ الوسائل الأخرى للتأديب، أو الحمل على الطاعات الواجبة ، كما جاء
في الحديث :
Hukum pukul itu sendiri secara asal tidak dianjurkan dan tidak pula dipraktekkan kecuali apabila segala cara yang ada sudah tidak bisa lagi utk mendidik atau memerintahkan anak kepada perbuatan yang wajib.
Sebagaimana diterangkan di dalam hadits :
(( مُروا أولادَكم بالصلاةِ وهم أبناءُ سبعِ سنينَ واضربوهُم عليها وهمْ أبناءُ عشرٍ )) حسنه الألباني في صحيحأبي داود – رقم:(495)
Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai usia tujuh tahun, dan pukullah dia (jika tidak melaksanakannya) apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun.
[Dihasankan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Shahih Abu Dawud no 495]
📚 Lihat Irwâ’ul Ghalîl (1/266)
CATATAN PENTING
Rasulullâh memerintahkan untuk memukul anak sebagai alternatif terakhir, apabila segala cara dan upaya sudah dilakukan. Pun, jika mengharuskan untuk menghukum anak dengan pukulan, maka pukulan tsb adalah pukulan kasih sayang, bukan luapan emosi dan kemarahan, yang tidak meninggalkan bekas apalagi mencederakan.
Sayangilah anak dengan tidak terlalu memanjakan dan terlalu mengekang…
Wallahu a’lam.
ℳـ₰✍
Add a comment...

Post has attachment
RENUNGAN AL-QUR’AN
AKAL VS WAHYU (BAG 2)
🅰 AKIBAT MENDAHULUKAN AKAL DARIPADA WAHYU
Perhatikan kisah Iblis yang diabadikan Allâh di dalam firman-Nya dalam QS al-A’râf ayat 12-13 berikut ini :
🔆 Wahyu
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ
“`(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?”“`
➰ Akal
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“`(Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”“`
✴ Akibat
{قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ}
“`(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”“`
❗ Perhatikanlah
Ketika Iblis menolak perintah dari Allâh dengan akal dan logikanya, karena secara logis ia merasa lebih baik dari Adam. Dirinya berasal dari api sedangkan Adam dari tanah. Kenapa yg lbh baik malah disuruh bersujud kpd yang lbh rendah? Akalnya menolaknya, sehingga dampaknya Iblis pun diusir dari surga dan dihinakan oleh Allâh.
🅱 AKIBAT MENDAHULUKAN WAHYU DARIPADA AKAL
Perhatikanlah kisah Musa ‘alayhis Salâm yang sedang dikejar tentara Fir’aun, dimana beliau lebih mengedepankan wahyu dari Allâh ketimbang akal dan rasio. Hal ini diabadikan di dalam QS asy-Syu’arâ 61-66.
➰ Akal
{فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ}
“`Maka ketika kedua golongan itu (yaitu rombongan Musa dan tentara Fir’aun) sudah saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Kita benar-benar akan tersusul.”“`
👉🏻 Yaitu tentara Fir’aun yang berjumlah banyak dengan berkendara lengkap, telah mendekati rombongan Musa. Sehingga secara akal, tdk mungkin mereka bisa terhindar dan tidak tersusul…
🔆 Wahyu
{قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ}
“`Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”“`
👉🏻 Musa ‘alayhis Salâm dengan keyakinan yg berasal dari wahyu, menyatakan bahwa mereka tidak akan bisa menyusul rombongan kami.
✴ Akibat
{فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ وَأَنجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ أَجْمَعِينَ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ}
“`Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.“`
❗ Perhatikanlah
Ketika pengikut Musa merasa bahwa mereka akan tersusul dan terkejar oleh tentara Fir’aun, maka Musa pun lebih mendahulukan wahyu Allâh. Sehingga Allâh pun membuka jalan keselamatan bagi mereka dengan cara membelah laut merah, lalu Allâh menyelamatkan Musa dan kaumnya, kemudian menenggelamkan bala tentara Fir’aun.
Demikianlah akibat dan dampak bagi mereka yang mengedepankan wahyu dibandingkan akalnya
✍🏻 Faidah dari al-Ustadz Ali Nur al-Maidani.
ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma
Add a comment...

Post has attachment
RENUNGAN AL-QUR’AN
Akal vs Wahyu =?
💬 Allah berfirman dalam surat Hûd ayat 43 :
(قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ)
“`Dia (anak Nabi Nuh) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.“`
💭 Al-‘Allâmah as-Sa’dî rahimahullâhu berkata :
فـ { قَالَ } ابنه، مكذبا لأبيه أنه لا ينجو إلا من ركب معه السفينة. { سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ } أي: سأرتقي جبلا، أمتنع به من الماء، فـ { قَالَ } نوح: { لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ } فلا يعصم أحدا، جبل ولا غيره، ولو تسبب بغاية ما يمكنه من الأسباب، لما نجا إن لم ينجه الله. { وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ } الابن { مِنَ الْمُغْرَقِينَ }
Maka anak Nuh pun mendustakan ayahnya yang mengatakan tidak akan ada yang selamat kecuali orang yang mau naik bahtera bersama beliau, dia berkilah : 《Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah! 》, maksudnya dia akan berlindung dengan menaiki gunung (dataran tinggi) sehingga bisa melindungi dari air bah.
Nuh pun menjawab : 《Tidak ada yang bisa melindungi dari siksaan Allâh pada hari ini selain Allâh Yang Maha Penyayang》, yaitu tidak ada satupun yang bisa melindungi, entah itu gunung atau selainnya. Meskipun berbagai cara apapun digunakan, maka tidak akan ada yang bisa selamat apabila Allâh tidak menyelamatkannya.
《Maka gelombang pun menjadi penghalang antara keduanya, dan anak Nuh itu termasuk orang yang binasa dengan cara ditenggelamkan》
📚 Taisîr al-Karîm Ar-Rahman. karya al-Allamah as-Sa’dî.
Akal vs Wahyu
✍ Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :
﴿ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺂﻭِﻱ ﺇِﻟَﻰٰ ﺟَﺒَﻞٍ ﻳَﻌْﺼِﻤُﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﴾
“` ﴾ Dia (anak Nabî Nuh) mengatakan : “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat melindungiku dari air bah” ﴿ “`
[ ‏ﻫــﺬﺍ ﻋﻘــﻞ ]
👉🏻 Ini adalah (argumen) AKAL
[Karena secara logika untuk menghindari air bah bisa mencari dataran tinggi atau gunung menjulang, pent.]
﴿ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎﻋَﺎﺻِﻢَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦ ﺭَّﺣِﻢَ ﴾
“`﴾Nuh mengatakan : “Tidak ada yang dapat melindungi dari siksaan Allâh pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang” ﴿“`
[ ﻫـــﺬﺍ وحي ‏]
👉🏻 Ini adalah (jawaban) WAHYU
[Yaitu para Nabi tidaklah berkata melainkan itu merupakan wahyu dari Allâh, dan wahyu dari Allâh tidak akan bisa terkalahkan dengan akal logika manusia yang lemah, pent.]
﴿ ﻭَﺣَﺎﻝَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺝُ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻐْﺮَﻗِﻴﻦَ ﴾
“`﴾ Dan gelombang pun menjadi penghalang antara keduanya, sehingga anak Nuh pun menjadi orang yang ditenggelamkan﴿“`
[ ﻫـــﺬﻩ ﺍلنتيجـة ]
👉🏻 Ini adalah HASIL (DAMPAK)
[Ini adalah dampak dan hasil apabila wahyu ditentang dengan akal, rasio dan logika manusia yang lemah, pent.]
Ibnu Taimiyah rahimahullâhu lalu berkomentar :
فكل ﻣـﻦ ﻗـﺪّﻡ ﻋﻘﻠـﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺼـﻮﺹ ﺍﻟﻜﺘـﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨـﺔ الصحيحة ﻏـﺮِﻕ ﻓﻲ ﻇﻠﻤـﺎﺕ ﺑﺤﺎﺭ ﺍﻷﻫـﻮﺍﺀ ﻭﺍﻟﺒﺪﻉ
Maka siapa saja yang lebih mengedepankan akalnya melebihi dalil al-Qur’ân dan sunnah Nabi yang shahih, maka ia akan tenggelam ke dalam kegelapan samudera hawa nafsu dan bid’ah❗
ﻣـﻦ ﺗﻌــﻮﺩ ﻣﻌﺎﺭﺿـﺔ ﺍﻟﺸـﺮﻉ ﺑﺎﻟﻌﻘـﻞ ﻻ ﻳﺴﺘﻘـﺮ ﻓـﻲ ﻗﻠـﺒــﻪ ﺇﻳـﻤـﺎﻥ).
Dan barangsiapa yang biasa menentang syariat dengan akalnya, maka keimanan tidak akan bercokol mantap di dalam hatinya
📘 Dar’u Ta’ârudh al-Aqli WanNaqli(I/187)
ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
Abu Salma Muhammad
@abinyasalma
Add a comment...

Post has attachment
FAIDAH HADITS
🔆 Keutamaan al-Qur’ân dan Para Penghafalnya
✅ عن عقبة بن عامر – رضي الله عنه – قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :
✅ Dari ‘Uqbah bin ‘Âmir Radhiyallâhu Anhu, beliau berkata : saya mendengar Rasulullâh ﷺ bersabda :
لو جمع القرآن في إهاب، ثم ألقي في النار، ما احترق “.
“`Sekiranya Al-Qur’ân itu dihimpun di dalam kulit kemudian dilemparkan ke dalam neraka, niscaya tidak akan terbakar“`
📜 Diriwayatkan Imam ad-Dârimi dll. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Silsîlah ash-Shahîhah
🔼 معنى الحديث
🔼 Makna Hadits
🔰 قال ابن الأثير
🔰 Ibnul Atsîr berkata :
*قيل كان هذا معجزة للقرآن في زمن النبي صلى الله عليه وسلم، كما تكون الآيات في عصور الأنبياء.
➖ Ada yg berpendapat bahwa hal ini merupakan mukjizat al-Qur’ân di zaman Nabî ﷺ sebagaimana ayat² (kitab suci) di masa para nabi.
*وقيل المعنى : من علمه الله القرآن لم تحرقه نار الآخرة، فجعل جسم حافظ القرآن كالإهاب له .
➖Adapula yang berpendapat bahwa orang yang Allah ajarkan Al-Qur’ân tidak akan bisa dibakar api akhirat, karena itu Allâh jadikan tubuh penghafal al-Qur’ân seperti kulit yang menghimpun al-Qur’ân (yang tidak bisa terbakar, pent.)
📔 an-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts juz 1 hal. 83
☝🏼 والمعنى الثاني هو الأصح.
👆🏻Makna kedua di atas yang lebih tepat.
وقد اختاره كثير من أهل العلم.
✔ Pendapat ini pula yang banyak dipilih oleh para ulama.
🔰 قال ابن الجوزي المعنى أن حافظ القرآن ممتنع من النار .
🔰 Ibnul Jauzî berkata, bahwa maknanya adalah penghafal al-Qur’ân itu terlindungi dari api neraka.
📔 Gharîbul Hadîts Juz 1 hal 48
🔰 *وقال الإمام الألباني
🔰Al-Imâm al-Albânî berkata :
وإن مما لا شك فيه : أن المراد : حامل القرآن، وحافظه، وتاليه، لوجه الله تبارك وتعالى، لا يبتغي عليه جزاء، ولا شكورا، إلا من الله عز وجل.
Suatu hal yang tidak perlu disangsikan lagi, bahwa maksudnya adalah penjaga al-Qur’ân, penghafal dan pembacanya yang mengharap hanya wajah Allâh ﷻ semata, tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih apapun, kecuali hanya balasan dari Allah ﷻ.
📔 As-Silsilah ash-Shahîhah juz 7 hadits no 3562.
ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma
Add a comment...

Post has attachment

Post has attachment
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded